Enam Truk Kayu Jati Ilegal Disita KLHK
ilustrasi. Antara
Semarang: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyita enam unit truk bermuatan kayu jati yang diduga hasil penebangan ilegal di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ke enam unit truk itu disita pada 24 Oktober 2018 di Desa Ronggo, Pati, Jawa Tengah.

"Desa Ronggo menjadi salah satu pusat penampungan kayu ilegal di Jawa," kata Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sustyo Iriyono, saat gelar perkara di Badan Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah, Semarang, 25 Oktober 2018.

Operasi penyitaan itu dilakukan di lima titik lokasi di Desa Ronggo. KLHK mendapat informasi adanya praktek pengepulan kayu jati ilegal itu dari Perhutani Jawa Tengah. "Operasi ini hasil kolaborasi berbagai pihak," ujar Sustyo seraya menyatakan bahwa anggota TNI dan Polri turut dilibatkan dalam operasi penyitaan ini.


Kementerian masih menghitung berapa rupiah nilai kayu jati yang disita dari enam unit truk tersebut. Ditaksir, kerugian negara mencapai ratusan juta rupiah akibat penebangan ilegal kayu jadi tersebut. 

"Kayu jati yang disita ada yang masih berbentuk gelondongan dan ada yang sudah dipotong-potong. Nilainya lebih dari Rp200 juta," ungkap Sustyo.

Direktur Penegakan Hukum Pidana Kemen LHK, Yazid Nurhuda, menambahkan penebangan ilegal atau ilegal logging menduduki peringkat kedua kejahatan hutan di Indonesia. Peringkat pertama kejahatan hutan adalah kejahatan satwa liar. 

"Tiga tahun terakhir ini sudah 533 kasus kami P-21. Itu di seluruh wilayah indobesia, bukan hanya Jateng, tapi Kalimantan dan Sumatera," ungkap Yazid.

Menurut Yazid, selama tiga tahun terakhir, kerugian negara mencapai belasan triliun rupiah akibat kejahatan hutan. Kejahatan hutan di sini meliputi ilegal logging, perburuan satwa liar, perambahan hutan, pencemaran, dan pengrusakan lingkungan. 

"Bisa dilihat dalam gugatan ganti kerugian terhadap perusahaan yang melakukan kerusakan lingkungan yang sudah inkrah mencapai Rp.17,8 triliun. Sedangkan di luar gugatan Rp60 miliar," tegas Yazid.




(ALB)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id