Sejumlah orang tua saat mencari informasi PPDB di Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Rabu, 19 Juni 2019. Medcom.id/ Ahmad Mustaqim.
Sejumlah orang tua saat mencari informasi PPDB di Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Rabu, 19 Juni 2019. Medcom.id/ Ahmad Mustaqim. (Ahmad Mustaqim)

Sistem Zonasi Buat Bimbang Orang Tua Siswa di Yogyakarta

PPDB 2019
Ahmad Mustaqim • 19 Juni 2019 17:14
Yogyakarta: Orang tua siswa di Kota Yogyakarta mengaku bimbang dengan sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMP. Bagi yang nilainya kategori sedang, orang tua siswa bimbang lantaran tetap ada persaingan ataukah memilih jalur mutu.
 
Indra Gunawan, salah satu orang tua yang masih mencari pertimbangan untuk mendaftarkan anaknya ke SMP negeri. Warga RW 7 Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta ini masih giat mencari informasi soal PPDB sistem zonasi di Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta. 
 
"Tanya info, karena kita berdasarkan jarak hanya memastikan, itu ikut apa zona wilayah atau apa. Lalu disana sepertinya ada sesuatu yang lupa karena di sana ada berdasarkan nilai, tapi ternyata tadi saya lihat tidak berdasarkan nilai, hanya berdasarkan jarak," kata Indra di kantor Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Rabu, 19 Juni 2019. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Indra berencana mendaftar anaknya ke SMP 2 Yogyakarta atau SMP 16 Yogyakarta. Jarak kedua sekolah itu menurutnya paling dekat di antara SMP lain. 
 
Meski sistem zonasi dianggap lebih mudah, Indra menilai hal itu tak sepenuhnya benar. Ia mengatakan pendaftaran setiap anak ke sekolah harus lewat pertimbangan jumlah lulusan SD di tiap kampung dan kuota kursi di SMP tujuan. Di sisi lain, nilai rata-rata anak Indra masuk kategori sedang. 
 
"Pilihannya kan ada tiga SMP. Misalnya 3 SMP itu jumlahnya 600 siswa, kalau misal 100 lulusan pasti banyak persaingan kalau nilai tidak terlalu tinggi. Kita lihat dulu-dulu walaupun sekarang pemerataan," jelas Indra.
 
Selain itu, pihaknya juga belum mengetahui sulit tidaknya pendaftaran dengan sistem online. Dimulai dari pengambilan token, kemudian baru mendaftar, Indra berharap tak ada kesulitan dengan jatah waktu lima hari. 
 
"Kalau tidak keterima wilayah (zonasi) mau daftar zona mutu. Karena ada zona mutu artinya sekolah tidak mau kehilangan mutunya juga kan," beber Indra.
 
Sementara Yessi Hamzah, warga RW 9 Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, juga melakukan langkah serupa dengan Indra. Ia tak menutupi rasa bimbang mendaftarkan anaknya ke SMP lewat jalur zonasi atau mutu. 
 
"Masih galau, saya mau nanya kepastian soalnya kan nilai anak saya agak nanggung, 24. Makanya saya minta pencerahan apakah itu memungkinkan untuk mutu, karena jadwal untuk zonasi wilayah lebih awal," ujar Yessi. 
 
Dari hasil datang ke Dinas Pendidikan, Yessi disarankan mendaftarkan anaknya lewat jalur zonasi lebih dulu. Ia mengatakan jumlah nilai yang anaknya miliki sebanyak 1.300.
 
Ia mengatakan anaknya ingin bersekolah di SMP Negeri 8 Yogyakarta dengan alternatif pilihan kedua di SMP Negeri 1 Yogyakarta. Namun, lanjutnya, perolehan nilai sang anak terbilang nanggung. Sedangkan, dengan sistem zonasi, jarak tempat tinggal dengan SMP 8 terbilang jauh. 
 
"Yang memungkinkan lewat jalur mutu. Jadinya harus pintar-pintar menghitung dari bibit unggul yang keterima kemarin, nilainya yang sama sudah ada berapa di masing-masing SMP tersebut untuk bahan pengurangan dari jumlah kuota yang diterima seperti itu," pungkas Yessi.
 

(DEN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif