Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal.
Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal. (Kuntoro Tayubi)

685 Balita di Brebes Mengalami Stunting

gizi kurang
Kuntoro Tayubi • 21 September 2018 11:33
Brebes: Sebanyak 32,7 persen balita di Brebes mengalami keterlambatan dalam tumbuh kembang. Sepuluh desa masuk katagori tertinggi jumlah balita stunting. Secara keseluruhan, balita stunting tersebut mencapai 685 orang, dari jumlah balita 4.919 orang.
 
"Jumlah penduduk di sepuluh desa ini sebanyak 71.225 orang. Penduduk kategori keluarga miskin ada 19.433 orang," kata Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Brebes, Nurul Aeny di kantornya Jalan Dr. Wahidin, Brebes, Jumat, 21 September 2018.
 
Nurul menjelaskan, hal ini menempatkan posisi kasus stunting di Brebes menjadi nomor satu di Jawa Tengah dan masuk kategori sepuluh besar nasional.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Stunting adalah kondisi panjang atau badan anak anak dibawah standar dibandingkan usianya. Pengukuran badan dilakukan pada bayi usia 0-23 bulan dan pengukuran tinggi badan dilakukan untuk anak usia mulai 24 bulan.
 
"Ibu hamil yang menderita KEK (Kekurangan Energi Kronis) dan kurang darah (anemia) sangat berisiko untuk melahirkan bayi dengan berat lahir rendah yakni kurang dari 2.500 gram. Bayi tersebut berisiko mengalami hambatan pertumbuhan dan menjadi stunting," jelas Nurul.
 
Nurul menambahkan, kondisi tersebut terjadi pada ibu yang melahirkan pada usia remaja antara 15-19 tahun, atau ibu yang tingginya kurang dari 150 centimeter dan anak yang tidak mendapatkan asupan makanan yang optimal.
 
Di antaranya ASI ekslusif pada enam bulan pertama kehidupan, makanan pendaping (MP) ASI dimulai usia 6 bulan dan terus mendapatkan ASI hingga dua tahun atau lebih.
 
"Akibat stunting anak mengalami hambatan pertumbuhan sehingga mempunyai fisik yang pendek sampai dewasa. Perkembangan sel otak terhambat sehingga kecerdasan berkurang, meningkatkan risiko menderita penyakit tidak menular seperti kencing manis dan hipertensi di usia dewasa," ungkap Nurul.
 
Besarnya jumlah anak stunting ini salah satunya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi keluarga. Sehingga penanganannya bukan hanya dari segi kesehatan, tapi juga melibatkan sektor lain seperti pendidikan dan lainnya.
 
Balita stunting ini akan berdampak pada terganggunya tumbuh kembang intelektual anak. Ini bisa disebabkan karena kurang gizi selama kehamilan sampai berusia dua tahun.
 
Di beberapa desa, balita stunting ini juga mengidap gizi buruk. Salah satu balita stunting yang mengidap gizi buruk adalah Waliya Aenun Latifah usia 4,5 tahun. Akibat stunting dan gizi buruk, bobot anak ini hanya 10 kilogram dan dengan tinggi 96 centimeter.
 
"Padahal di usianya tersebut ia seharusnya memiliki bobot minimal 15 kilogram dan tinggi badan 100 centimeter," kata bidan desa Puskesmas Pembantu Desa/Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Rima Rafida yang mendampingi Aenun.
 
Balita stunting lain di desa ini adalah Sintia umur 15 bulan. Ia memiliki bobot hanya 6 kilogram panjang badan 69 centimeter. Padalah seharusnya Sintia memiliki bobot paling tidak 10 kilogram dan panjang badan 90 centimeter.
 

(DEN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif