Peneliti AS Tawarkan Model Deradikalisasi di Indonesia
Peneliti dari Goucher College, Amerika Serikat, Julie Chernov Hwang. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
Yogyakarta: Peneliti dari Goucher College, Amerika Serikat, Julie Chernov Hwang menyebut ada sejumlah jalan untuk deradikalisasi para mantan anggota kelompok radikal di Indonesia. Model deradikalisasi ini dibuat setelah meneliti sejumlah eks dan anggota kelompok radikal aktif.

Bersama sejumlah kolega, Julie menemui 55 orang yang pernah ataupun masih berafiliasi dengan kelompok ekstremis Islam seperti Jamaah Islamiyah, Laskar Jihad, Mujahidin KOMPAK, Tanah Runtuh, dan Ring Banten. Penelitian ini kemudian berbuah buku berjudul "Why Terrorist Quit: The Disengagement of Indonesian Jihadists". Sebanyak 49 dari 55 di antaranya menyatakan keluar dari kelompok radikal yang pernah diikuti.

Julie menjelaskan, pendekatan untuk bisa menemui mantan anggota ekstremis itu dimulai dengan berusaha meyakinkan dan membangun ikatan sosial. Dengan modal itu, kemudian melakukan pembentukan relasi pertemanan untuk mengetahui keterkaitan hubungan anggota kelompok  tersebut.


"Sama dengan yang menjadi kunci proses radikalisasi, pembentukan relasi yang baru serta pertemanan untuk mencari keterkaitan hubungan mereka (kelompok ekstremis),” ujar Julie dalam diskusi buku tersebut di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat, 3 Agustus 2018.

Menurut dia, ada sejumlah proses dilakukan untuk melepaskan diri anggota kelompok  radikal dari kelompoknya. Di antaranya psikologis, rasional, relasional, serta emosional.

Dari situ, ia melihat ada banyak eks anggota anggota kelompok  radikal berhasil keluar dari kelompoknya dan kembali lagi bersama masyarakat.

Dia mengatakan proses reintegrasi seorang mantan anggota kelompok radikal dapat dibagi menjadi empat fase. Salah satunya timbulnya kealihsadaran yang berujung pada kekecewaan atau disilusi terhadap pemimpin kelompok dan aksi yang dilakukan.

"Mereka tidak berfikir aksi bom terjadi di Indonesia. Kondisi itu tidak tepat untuk aksi pengeboman. Konsekuensi untuk jaringan mereka itu terlalu tinggi. Pemimpin ditangkap, anggota ditangkap, orang yang enggak ikut aksi ditangkap. ," kata dia.

Ia mengungkapkan kekecawaan itu bisa dialami pada langkah yang diambil pimpinan kelompok. Bahkan, ada yang kemudian menyatakan kecewa pada dirinya sendiri.

"Ada yang mengatakan kecewa karena melihat terlalu banyak orang yang menjadi korban,” jelasnya.

Meski demikian, Julie mengakui beberapa hal itu tak semua bisa membuat mereka keluar dari kelompok radikal. Terlebih ada loyalitas yang sudah terbangun di dalam kelompok.

Bagi dia, emosi bentuk kekecewaan itu bisa menjadi momen penyadaran yang memulai proses refleksi atas tindakan yang dirasa kurang benar. Kemudian, lanjutnya, bisa dilakukan rasionalisasi dampak keuntungan dan kerugian yang didapatkan dari kegiatan ekstremisme yang dijalankan.

Selain itu, hal lain yang cukup penting yakni berkembangnya hubungan sosial dan pergaulan seorang anggota kelompok  radikal di luar kelompok sepemikirannya, serta munculnya prioritas-prioritas baru pada kehidupan seorang anggota kelompok  radikal.

"Relasi pertemanan ini penting, juga fungsi keluarga untuk menolong mereka yang mau melepaskan diri dari kelompok jihad serta membantu mereka membangun hidup yang baru,” kata dia.

Ia menambahkan, tidak sedikit anggota kelompok  radikal di Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir berhasil melepaskan diri dari nilai-nilai kekerasan dan berintegrasi kembali dengan masyarakat. Sebagian dari mereka bahkan kini aktif menyuarakan nilai perdamaian. Hal itu menjadi salah satu temuan dalam penelitiannya yang dilakukan 2010 hingga 2016.

Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM Najib Azca menambahkan banyak sekali upaya yang dilakukan masyarakat. Kadang-kadang upaya itu tidak sepenuhnya dirangkul untuk bekerja sama dengan negara.

"Saya kira ini satu kelemahan. Jadi harusnya negara secara proaktif melibatkan masyarakat karena potensi terbesar kemampuan itu ada di masyarakat," ungkapnya.

Ia juga menilai, program deradikalisasi sudah punya pengaruh, meskipun belum sepenuhnya. Ia menyebut sejumlah acara hanya sebatas seremonial.

"Sehingga kadang-kadang tidak substanstif. Padahal yang penting adalah pendekatan keseharian dengan pendekatan grass root," jelasnya.




 



(SUR)