Pemilik Bengkel Pemberi Hukuman Oli Bekas Diperiksa Polisi

Ahmad Mustaqim 02 Mei 2018 16:18 WIB
kekerasan
Pemilik Bengkel Pemberi Hukuman Oli Bekas Diperiksa Polisi
L, bocah yang dihukum siramkan oli bekas ke tubuhnya, dibawa ke puskesmas di Sleman, Rabu 2 Mei 2018, Medcom.id - Mustaqim
Sleman: Polres Sleman, DI Yogyakarta, mendalami peristiwa L, bocah yang dihukum mengguyur dirinya sendiri dengan oli bekas. Selain L, polisi juga memeriksa Arif, pemilik bengkel yang memberikan hukuman itu kepada bocah kelas II SMP tersebut.

Pemeriksaan terhadap L berlangsung selama dua jam di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satreskrim Polres Sleman. Sunardi, kerabat L, mengatakan pertanyaan seputar peristiwa yang terjadi pada akhir April 2018.

Keluarga Arif dan keluarga L sudah bertemu secara kekeluargaan. Sunardi juga mengatakan hukuman itu mengakibatkan bocah kelas II SMP tersebut mengalami iritasi mata dan telinga. 


Baca: Bocah Dihukum Siraman Oli Derita Iritasi Mata 

L, lanjut Sunardi, tak memiliki ayah dan ibu. Jadi, kerabat yang mendampingi L dalam pertemuan tersebut. Meski demikian, keluarga tak berencana membawa perkara itu ke ranah hukum.

"Tapi soal hukum, itu kewenangan polisi," ungkap Sunardi di Sleman, Rabu 2 Mei 2018.

Akhir bulan lalu, Sunardi mendapat kabar Arif menjatuhkan hukuman pada remaja berusia 14 tahun tersebut. Alasannya, Arif memergoki L mencuri di bengkelnya. Arif kemudian memberikan hukuman atas tindakan L. Yaitu mengguyur dirinya sendiri dengan oli bekas.

Peristiwa itu ramai di media sosial. Sejumlah tawaran pun datang ke pihak keluarga untuk mendampingi L, termasuk bantuan hukum.

"Jadi, masih kami bahas dengan keluarga. Kami ingin membuat anaknya nyaman dan bisa sekolah dengan baik. Soal proses hukum, jadi kewenangan kepolisian," ujarnya. 

Sunardi mengelaskan L merupakan anak tunggal. Orangtuanya meninggal tiga tahun lalu. L juga tak memiliki saudara.

Sementara itu Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Sleman AKP Anggaito Hadi Prabowo mengatakan masih mendalami kasus itu. Ia mengatakan Arif bisa saja menjadi tersangka dan dijerat Undang Undang Perlindungan Anak.

"Penetapan status tersangka bila ada indikasi pemaksaan secara verbal, menyuruh, dan ancaman. Ancaman pidananya tiga tahun," ujar Anggaito. 




(RRN)