Anak Bangsa Ciptakan Baterai Ramah Lingkungan
Baterai lithium kerjasama Pertamina-UNS
Solo: PT Pertamina (Persero) dan Universitas Sebelas Maret (UNS) berhasil memproduksi Lithium Ion Battery (LIB) yang hemat dan murah pertama karya anak bangsa. Baterai lithium ini tergolong baterai sekunder atau dapat diisi ulang dan dapat digunakan untuk berbagai peralatan, seperti power bank hingga motor listrik.

Sebagai pilot project, Pertamina menggelontorkan sekitar Rp11 miliar guna pengembangan produksi baterai lithium ion. Baterai ini diteliti dan diproduksi oleh tim ahli dari UNS.

Ada beberapa jenis baterai lithium yang dikembangkan pada tahap awal. Seperti Lithium Cobalt, Lithium Nikel Cobalt Aluminium Oksida (NCA), Lithium Nikel Mangan Kobalt Oksida (NMC), dan lain sebagainya.


Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Resiko Pertamina Gigih Prakosa mengungkapkan pengembangan baterai ini sejalan dengan dukungan beralihnya energi bersumber dari fosil ke energi terbarukan.

"Kita mengarah pada renewable energy (energi terbarukan) sebagai bentuk energi ke depan yang lebih sustain (berkelanjutan)," ungkap Gigih pada wartawan usai Peluncuran Unit Produksi Baterai Lithium Ion Pertamina-UNS di Solo, Jawa Tengah, Jumat, 13 Juli 2018.

Jadi Penggerak Kendaraan Listrik Ramah Lingkungan

Keberadaan baterai ini sekaligus diyakini berdampak menurunkan kadar emisi melalui penggunaan energi ramah lingkungan, seperti kendaraan listrik. 

Senior Vice President Research and Technology Centre, Herutama Trikoranto, mengemukakan saat ini Institut Teknologi Surabaya (ITS) juga tengah mengembangkan kendaraan listrik. Baterai ini akan ditujukan sebagai pendukung keberadaan motor listrik tersebut.

Battery cells kerja sama Pertamina-UNS akan dijadikan baterry pack yang memiliki kapasitas 3 kWh untuk motor listrik berkekuatan 5 Kw. "Lebih kurang setara dengan mesin motor dengan pembakaran internal berkapasitas 125-150 cc," kata Herutama.

Kendaraan listrik yang didesain dengan battery pack tersebut memiliki jarak tempuh lebih jauh dengan biaya lebih murah.

Sementara Rektor UNS Ravik Karsidi meyakini pengembangan baterai lithium Pertamina-UNS sejalan dengan cita-cita kemandiriannya bangsa. "Kita terus kembangkan agar nanti lama-lama tidak bergantung pada impor," katanya.

Saat ini dalam satu hari, lanjut Ravik, tim mampu memroduksi 1.000 cells baterai lithium. "Harapannya bisa diproduksi massal. Menjadi sumber energi karya anak bangsa yang lebih murah dan ramah," ucapnya.



(ALB)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id