"Banjir terjadi sejak Kamis, 1 Februari kemarin. Walaupun sekarang sudah surut, namun puluhan hektare tanaman padi terancam gagal panen. Tanaman banyak yang mati," ujar Kepala Desa Tengeng Wetan, Nursalim, saat dihubungi, Senin, 5 Februari 2018.
Selain itu, petani di desanya memasuki masa tanam. Kerugian petani diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah akibat banjir yang menerjang Pekalongan.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Rata-rata tanaman padi masih berusia 1-2 bulan. Selain banyak yang mati, ada juga yang hanyut dan tertimbun lumpur. Kerugian diperkirakan sekitar Rp300 jutaan," jelasnya.
Selain merendam puluhan hektare tanaman padi, banjir juga menyebabkan 4 rumah milik warga rusak parah.
Bupati Pekalongan Asip Kholbihi mengatakan banjir di wilayah Sragi, atau wilayah Siwalan bagian selatan, membutuhkan penanganan khusus. Terutama pengerukan dan normalisasi saluran air. Pasalnya, banjir tersebut hampir terjadi setiap tahun jika hujan deras mengguyur.
Beruntung, kata dia, banjir yang terjadi masih bisa dikendalikan. "Masyarakat sekarang sudah pulih kembali. Tinggal kita memetakan, dicarikan treatment, semoga musim hujan yang akan datang sudah ada solusinya. Jangan sampai dibiarkan banjir terus," imbuhnya.
Hujan deras disertai angin kencang dan petir mengguyur wilayah Kabupaten Pekalongan pada Rabu, 31 Januari 2018, malam, Sejumlah desa dan sekolah di Kota Santri terendam banjir. Ratusan pelajar di SD 05 Sragi, SD 03 Sijeruk, dan SD 01 Sumub Lor, serta SMAN 1 Sragi terpaksa dipulangkan lebih awal lantaran sekolahan terendam banjir hingga ketinggian 75 sentimeter.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SUR)
