Joko Harmanto alias Jack Harun, mantan narapidana terorisme bom Bali I, saat mengisi kultum di salah satu masjid di Rejowinangun, Kotagede, Kota Yogyakarta, Kamis petang, 16 Mei 2019. Medcom.id/ Ahmad Mustaqim.
Joko Harmanto alias Jack Harun, mantan narapidana terorisme bom Bali I, saat mengisi kultum di salah satu masjid di Rejowinangun, Kotagede, Kota Yogyakarta, Kamis petang, 16 Mei 2019. Medcom.id/ Ahmad Mustaqim. (Ahmad Mustaqim)

Cerita Mantan Napi Teroris Isi Kegiatan Ramadan

Ramadan 2019
Ahmad Mustaqim • 17 Mei 2019 10:26
Yogyakarta: 'Gerakan radikalisme semakin masif berjalan'. Kalimat tersebut menjadi salah satu petikan isi ceramah Joko Harmanto alias Jack Harun, mantan narapidana teroris bom Bali I, saat mengisi kultum di salah satu masjid di Rejowinangun, Kotagede, Kota Yogyakarta, Kamis petang, 16 Mei 2019.
 
Dalam kultum itu, Jack mengatakan radikalisme ditularkan dari banyak jalan. Bukan hanya langsung bertatap muka, namun juga lewat dunia maya. Menurut dia, paham radikalisme telah ditularkan sejak anak-anak usia remaja.
 
"Tugas orang tua di sini menjadi penting. Bagaimana sebisa mungkin mendidik dan mengawasi kegiatan anak-anaknya," lata Jack saat memberikan kultum.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sekilas cerita di atas menjadi salah satu petikan kecil kegiatan Jack yang merupakan mantan perakit Bom Bali I. Jack saat itu ditangkap setelah dua tahun melakukan pelarian.
 
Jack berkata, teman-teman sejawatnya berusaha mengisi kegiatan yang lebih bermanfaat untuk orang lain. Tak ada ketentuan keharusan untuk melakukan ceramah di masjid.
 
Sejauh ini para mantan napi teroris melakukan dialog berkala. "Kalau kegiatan ramadan kami serahkan mau bagaimana di kampung masing-masing. Teman-teman di daerah mana bisa aktif di daerah itu," jelas Jack.
 
Jack mengatakan, banyak stigma negatif masih melekat dibenak masyarakat terhadap kisah masa lalu para mantan teroris. Bagi Jack, stigma itu membuat ketidaknyamanan dirinya dan yang lain untuk bisa bersosialisasi dengan masyarakat.
 
"Degan stigma sebagai mantan teroris dampaknya luar biasa. Kami menjadi kurang nyaman bergerak," ungkap Jack.
 
Meski begitu, Jack bersama puluhan mantan napi teroris terus berusaha menjadi warga negara yang baik. Kegiatan yang sudah berjalan yakni berwiraswasta.
 
Di bawah naungan Yayasan Gema Salam, puluhan mantan napi teroris membuat bermacam usaha. Misalnya, Jack berjualan soto dan membuat blangkon.
 
"Anggota aktif di yayasan kami ada 40 yang aktif. Kalau anggota semua hampir 70an, tersebar di Yogya dan Jawa Tengah. Ada yang mantan teroris hingga mantan anggota ISIS," ungkap Jack.
 
Menurutnya, para anggotanya kerap melakukan pertemuan untuk dialog dengan fokus pada kerja sosial dan ekonomi. Kegiatan itu semata dilakukan untuk mengembalikan mereka yang setelah menjalani hukum bisa menjadi manusia seutuhnya.
 
"Mereka yang sudah bebas agar bisa memiliki kekuatan ekonomi. Masyarakat perlahan mulai menerima. Kami juga selalu koordinasi dengan masyarakat tingkat bawah, termasuk dengan perangkat desa dan Babinsa," pungkas Jack.
 

(DEN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif