Warga melintasi jalan yang longsor di Desa Kunir. Jepara, Medcom.id - Rhobi Shani
Warga melintasi jalan yang longsor di Desa Kunir. Jepara, Medcom.id - Rhobi Shani (Rhobi Shani)

Desa Terdampak Longsor Berada di Ketinggian 700 Mdpl

tanah longsor
Rhobi Shani • 17 Januari 2019 13:42
Jepara: Kabut putih tebal turun dari pegunungan Muria diiringi gerimis. Jarak pandang di Dukuh Jehan Desa Kunir, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, pun terbatas. Lima rumah yang rusak tertimpa longsor tampak samar. 
 
Gerimis reda, Sucipto berdiri di tepi lereng jalan yang longsor. Tangannya berpegangan pada pagar pengamanan darurat dari bambu, melemparkan pandangan ke arah rumah-rumah yang rusak di bawahnya.
 
“Peristiwa ini bukan yang pertama. Sebelumnya juga sudah pernah terjadi longsor di titik yang sama, ya di jalan ini,” ujar Sucipto lirih, Rabu petang, 16 Januari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Desa Kunir berada di 700 meter dari permukaan laut (Mdpl). Udara di desa ini cukup dingin. Jalan desa yang menghubungkan antardukuh sudah beraspal. Lebar jalan tidak lebih dari 2 meter dengan kontur menanjak dan berbelok-belok.
 
“Yang longsor ini bahu jalan. Kami tidak tahu kondisi tanah di bawah seperti apa, kalau jalan ini longsor sudah tidak ada jalan lain,” kata Sucipto.
 
Lebar jalan menuju Dukuh Jehan 2 meter. Jika dari bawah, kiri jalan berupa jurang. Sisi kanan jalan halaman dan rumah warga. beberapa titik di sisi kanan jalan tak ada bahu jalannya, langsung teras dan tembok masjid.
 
“Pelebaran jalan juga sudah tidak bisa. Kalau jalan ini ikut tergerus longsor, 300 kepala keluarga warga saya yang di Dukuh Jehan terisolasi,” ujar Sucipto.
 
Dengan kondisi saat ini, Sucipto mengaku sudah tidak dapat lagi melakukan pengembangan dan pembangunan desa. Sebab, kendaraan besar yang bisa mengangkut meterial tidak lagi berani melintas. Padahal, potensi wisata alam Dukuh Jehan sangat besar. Di ujung dukuh terdapat gardu pandang yang dibangun karang taruna desa.
 
“Pengunjungnya juga sudah lumayan. Kami memang berkeinginan menjadikan Desa Kunir ini sebagai desa wisata,” ucap Sucipto disusul dengan ajakan kepada Medcom.id untuk berjalan menuju pengungsian warga terdampak longsor.
 
Berjalan lima menit dari titik longsor sudah tiba di lokasi pengungsian, Madrasah Diniyah Miftahul Ulum. Di lokasi ini, pengungsi menempati salah satu ruang kelas. Ruang kelas lainnya dimanfaatkan untuk dapur umum.
 
“Warga ada yang di sini ada juga yang mengungsi ke rumah saudaranya,” kata Sucipto usai menuang kopi panas di sejumlah gelas untuk para relawan yang bekerja.
 
Ke depan, Sucipto berencana merelokasi warga yang rumahnya terkena longsor. Juga warga yang tinggal di lokasi rawan longsor.
 
Ditemui di pengungsian, Rustianah duduk bersandal tembok madrasah. Tatapan matanya kosong. Sementara anaknya, Fathur yang ikut dalam pengungsian nampak riang bermain bersama temannya. Rustianah kaget saat Medcom.id menanyakan kesehatannya.
 
“Semua baik-baik. Nenek juga baik. Saat longsor saya di sawah,” kata Rustianah.
 
Saat ditanya apa yang dilakukan pasca longsor, Rustianah mengungkapkan belum tahu apa yang akan dilakukannya. Dia juga enggan untuk direlokasi.
 
“Tidak tahu. Tidak mau,” jawab Rustianah singkat.
 
Hari kian petang. Hujan yang turun semakin deras. Para relawan mengenakan jas hujan nampak berjaga-jaga di lokasi pengungsian. Ibu-ibu di dapur umum terus bekerja memasak.
 

(RRN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif