Perwakilan guru di wilayah Kepulauan Karimunjawa. Medcom.id/Rhobi Shani
Perwakilan guru di wilayah Kepulauan Karimunjawa. Medcom.id/Rhobi Shani (Rhobi Shani)

Guru di Karimunjawa Tak Lagi Terima Tunjangan Khusus

pendidikan
Rhobi Shani • 02 Mei 2019 16:32
Jepara: Desa Kemujan dan Desa Parang di kepulauan Karimunjawa Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, mulai tahun ini keluar dari daftar desa sangat tertinggal jika merujuk ke indeks desa membangun (IDM). Namun, kabar baik ini justru menjadi bumerang bagi ekonomi guru-guru yang mengajar di sana.
 
Desa Parang dan Desa Nyamuk berada di sisi barat Pulau Karimunjawa dan butuh waktu tiga jam perjalanan kapal dari Karimunjawa. Semua kebutuhan pangan di dua pulau ini dipasok dari daratan Jepara.
 
Listrik di Pula Parang dan Nyamuk menggunakan tenaga surya. Praktis, biaya hidup di Pulau Parang dan Nyamuk lebih mahal jika dibanding dengan di daratan Jepara. Sejak tidak menjadi desa sangat tertinggal, guru-guru yang mengajar di Pulau Parang dan Nyamuk tidak lagi mendapat tunjangan khusus. Kondisi ini dikeluhkan guru-guru yang mengajar di dua pulau tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Seorang guru di SD Negeri Parang 2, Ahmad Rifai menyampaikan, besaran tunjangan khusus untuk guru di desa sangat tertinggal sebesar satu kali gaji. Tunjangan tersebut diberikan setiap tiga bulan sekali. Namun, sampai saat ini dia tidak lagi menerima tunjangan tersebut.
 
“Informasi yang kami terima, Desa Parang dan Nyamuk sudah tidak lagi termasuk desa sangat tertinggal. Padahal, tunjangan itu sangat membantu untuk transportasi dan biaya hidup,” ujar Ahmad Rifai, warga Desa Ngabul, kepada wartawan di Jepara, Kamis, 2 Mei 2019.
 
Tunjangan sebesar Rp2 juta biasanya habis untuk biaya transportasi pulang ke kampung halaman. Tiket penyeberangan Jepara-Karimunjawa pulang pergi Rp300 ribu. Biaya sewa kapal Karimunjawa – Pulau Parang pulang pergi Rp1 juta. Biaya makan dalam sebulan lebih mahal tiga kali lipat dengan biaya hidup di daratan Jepara.
 
“Gas elpiji 3 kilogram di sana (Parang dan Nyamuk) Rp30 ribu. Kebutuhan pangan semua dipasok dari Jepara. Paling irit untuk makan sebulan Rp1 juta itu dengan catatan lauk ikan memancing sendiri. Jadi kalau tunjangan khusus dihapus gaji kami habis,” ungkap Rifai yang mengaku pulang ke daratan Jepara sebulan sekali.
 
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Jepara, Agus Tri Harjono menyebut masalah tersebut sudah disampaikan ke Bupati Jepara, Akhmad Marzuqi. Sebab, nominasi penerima tunjangan khusus ditentukan pemerintah pusat berdasarkan data dari Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.
 
“Itu regulasi pusat. Mengambilnya data bukan dari Dinas Dikpora,” kata Agus.
 
Ada empat sekolah di Pulau Parang dan Nyamuk, yaitu 3 SD dan 1 SMP. Jumlah guru berstatus aparatur sipil negara sebanyak 23 guru. Dari 23 guru ASN, hanya satu orang yang sekarang tinggal menetap di Desa Parang. 
 

(SUR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA18:59

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif