Buruh Lokal Minta Kesempatan seperti Tenaga Kerja Asing

Budi Arista Romadhoni 01 Mei 2018 18:04 WIB
may day
Buruh Lokal Minta Kesempatan seperti Tenaga Kerja Asing
Aksi buruh dan mahasiswa di Kota Semarang menolak tenaga kerja asing, Selasa 1 Mei 2018, Medcom.id - Budi Arista
Semarang: Kedatangan tenaga kerja asing membuat buruh lokal takut kehilangan pekerjaan. Lantaran itu, di peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 1 Mei 2018, buruh meminta kesempatan yang sama dengan tenaga kerja asing.

Di Jawa Tengah, jumlah tenaga kerja asing sebanyak 1.986 orang pada 2016. Setahun kemudian, jumlahnya meningkat menjadi 2.119 orang.

Sementara itu, pemerintah memberlakukan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2018 tentang tenaga kerja asing. Warga asing bisa bekerja di Indonesia untuk posisi-posisi tertentu, bukan buruh.


Baca: Menaker Tegaskan Perpres 20/2018 Bukan Mengistimewakan TKA

Pemerintah mengklaim Perpres membatasi jumlah tenaga kerja asing masuk ke Indonesia. Tapi, kata Heru Budi Utoyo, Ketua Kesatuan Serikat Pekerja Nasional (KSPN) Jateng, pembatasan itu tak mengurangi kekhawatiran buruh.

"Perpres belum dapat membatasi tenaga kerja asing. Justru menambah kepanikan bagi buruh," ungkap Heru di sela-sela aksi May Day di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Jateng, Selasa, 1 Mei 2018.

Menurut Heru, salah satu batasan yang harus diberlakukan adalah calon pekerja asing dapat berbicara dengan bahasa Indonesia. Sebab, bahasa Indonesia menjadi modal untuk berkomunikasi dengan pekerja  lokal.

Ia juga tak sependapat dengan kemunculan tenaga kerja asing dapat melancarkan investasi di Jateng. "Itu hanya janji-janji manis. Kita lihat di lapangan masih ditemukan pekerja asing ilegal," ungkapnya.

Kemudian dia menuturkan pemerintah seharusnya membatasi jenis pekerjaan untuk tenaga kerja asing. Ia mengatakan ada pekerjaan yang seharusnya dapat dipegang oleh orang Indonesia. Jadi, posisi itu tak perlu diberikan kepada tenaga kerja asing.

"Misalnya sektor garmen. Ada pekerja dari Korea dan Indonesia. Padahal tugas mereka bisa dikerjakan oleh orang Indonesia," ungkapnya. Sektor garmen, ada dari korea, india. Kalau dilihat buruh indonesia bisa mengerjakan semua itu. Dan mungkin dapat lebih baik," tuturnya.


 



(RRN)