Suratimin Sukro Utomo, sosok yang berperan mengubah cara pandang Desa Semoyo, Kecamatan Patuk, Gunungkidul. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
Suratimin Sukro Utomo, sosok yang berperan mengubah cara pandang Desa Semoyo, Kecamatan Patuk, Gunungkidul. Medcom.id/Ahmad Mustaqim (Ahmad Mustaqim)

Suratimin, Pelindung Hutan Penjaga Air

pertanian petani kisah inspiratif
Ahmad Mustaqim • 24 Januari 2019 19:38
Gunungkidul: Warga Dusun Salak, Desa Semoyo, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kerap kekurangan air bersih saat kemarau. Kondisi ini tak terjadi lagi usai warga menjaga kondisi hutan dan menanam air saat musim hujan.
 
Suratimin Sukro Utomo, sosok penting di balik perubahan kondisi itu. Mulanya Suratimin mengajak warga untuk memperbaiki kondisi hutan yang rusak pada 2004. Lelaki berusia 60 tahun ini mengajak warga desa setempat menanam berbagai tanaman hutan untuk memperbaiki ekosistem hutan.
 
"Dulu sini disebut sangat gersang sekali. Saat kemarau daerahnya sangat panas," ujar Suratimin ditemui di kediamannya pada Rabu, 23 Januari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berbagai jenis tanaman hutan ditanam di kawasan hutan rakyat seluas 475 hektare. Di sisi lain, luasan Desa Semoyo sekitar 575 hektare. Dalam situasi itu, populasi tanaman hutan sangat sedikit dibanding tanaman pangan.
 
Lelaki kelahiran 1 Mei 1959 ini menjelaskan, ada lima tanaman hutan utama yang ditanam, mulai dari akasia, jati, mahoni, snorkling, dan sengon laut. "Kami berikan lebih dulu berbagai pengetahuan ke warga yang mayoritas petani sebelum menanam. Ini agar warga sadar pentingnya menjaga hutan," ujar suami pasangan Sutarmi, 50, ini.
 
Perlahan berubah
 
Sejak adanya penanaman tanaman hutan itu, perubahan mulai terjadi dari tahun ke tahun. Kata Suratimin, ada perubahan kondisi desa yang menjadi asri. Selain itu, suara hewan hingga satwa, termasuk Elang Jawa dan ayam hutan, beberapa kali bisa didengar di wilayah tersebut.
 
Ayah dua anak ini juga mengutarakan, warga juga diajak untuk menanam air saat musim hujan. Caranya, membuat banyak lubang di ladang agar air bisa meresap di tanah. Lahan di ladang yang ada di wilayah perbukitan dibuat terasering. Selain itu, warga juga membuat sumur resapan di dekat rumah.
 
Sampai saat ini, warga di Desa Semoyo tak mengalami kekurangan air saat musim kemarau. Meski debit air menurun saat kemarau, namun persediaan air di 21 titik sumber mata air masih bisa dimanfaatkan. Bahkan, wilayah tersebut menjadi kawasan konservasi dan wisata.
 
"Kalau hutan lestari memang perekonomian tak langsung berdampak. Tapi setidaknya bisa menjadi tabungan warga saat situasi terdesak dengan menebang kayu untuk memenuhi kebutuhan. Nilai jual akan lebih tinggi kalau kayu hasil tebang diolah jadi mebel atau kerajinan dulu," ujarnya.
 
Suratimin, Pelindung Hutan Penjaga Air
Pintu masuk kawasan konservasi hutan Semoyo di Desa Semoyo, Kecamatan Patuk, Gunungkidul. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
 
Menyerap karbon
 
Hutan rakyat di wilayah tersebut bukan hanya bermanfaat untuk warga setempat. Bahkan, hutan tersebut bisa menyerap emisi karbondioksida. Berdasarkan hitungan Suratimin, hutan di tempatnya bisa menghasilkan 32 ton karbon per hektare per tahun.
 
Jika dihitung kasar, hutan rakyat di Desa Semoyo bisa menghasilkan 15.200 ton karbon per tahun. Andai berlaku kompensasi, per satu ton karbon saat ini harganya sekitar 10 USD.
 
"Tapi gak mungkin kan negara kasih kompensasi dengan nilai itu. Setidaknya kami bisa berbagai ilmu dalam menghitung karbon," ujarnya.
 
Ada sebanyak 27 negara yang belajar menghitung karbon di tempat Suratimin pada 2016. Tahun 2017, tujuh perwakilan negara di Asia, mulai dari Cina, Thailand, India, Vietnam, Brunei Darussalam, Filipina, hingga Malaysia, juga belajar hal serupa di sana.
 
Atas kiprahnya, Suratimin mendapat sejumlah penghargaan dari pemerintah. Lelaki tersebut diganjar Kalpataru pada 2013 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia juga mendapat penghargaan kader konservasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2016.
 
"Pemerintah nitip pesan agar langkah seperti yang kami lakukan terus berlanjut. Tapi, pemerintah juga seharusnya tidak membiarkan warga bergerak sendiri dalam menjaga lingkungannya," ujar Suratimin.
 

 

 
 

(SUR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif