Betapa tidak, perempuan kelahiran 20 Mei 1952 yang berprofesi pedagang ayam ini bisa mewujudkan mimpinya membangun masjid.
Usaha Suciati membangun masjid bermula pada 1960. Saat masih duduk di bangku SMPN1 Yogyakarta, Suciati juga bekerja menjadi penjual ayam di Pasar Terban Kota Yogyakarta.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Suciati berjualan ayam bermodal Rp175 dari sang ibu. Uang Rp175 itu kemudian ia belikan ayam lima ekor. Per ekornya seharga Rp35 saat itu.
Suciati selalu bangun lebih pagi untuk bisa berjualan ayam lebih dulu sebelum sekolah. Sesaat sebelum masuk pelajaran, ia titipkan dagangannya kepada sang ibu.
"Saya selalu tak pernah ikut upacara bendera. Kalau mau masuk sekolah, ganti baju dulu di pasar. Habis itu nyeberang tembok pasar dulu karena pasarnya berada di sebelah sekolah. Lalu langsung ikut pelajarannya," ujar Suciati dijumpai di Masjid Suciati Saliman, Senin, 28 Mei 2018.
Selesai sekolah, Suciati melanjutkan berjualan keliling di kawasan Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan mengendarai sepeda. Sedikit demi sedikit, ia menyisihkan keuntungan itu.

Suciati, pedagang ayam yang wujudkan mimpi membangun masjid. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
Bahkan, Suciati tetap berjualan saat masih bersekolah di STM Kimia Jetis, Kota Yogyakarta.
"Lulus STM tahun 1970 saya habiskan jualan ayam sebanyak 70 ekor," ujarnya.
Suciati kemudian menikah pada 1975 dengan Saliman Raharjo. Saliman meninggalkan statusnya sebagai pegawai Dinas Sosial dan membantu Suciati berjualan ayam.
Dengan pengalamannya, mereka terus mempromosikan dagangan ayam melalui selebaran, iklan, hingga membagikan kartu nama.
Singkat cerita, Suciati membulatkan tekad ingin membangun masjid dengan lebih banyak menabung mulai 1995. Tabungan Suciati biasanya diwujudkan dengan membali emas dan menjualkan beberapa tahun kemudian.
Selain itu, modal juga didapat dari sejumlah bantuan.
Pembangunan masjid dimulai sekitar 2015 lalu. Tiga tahun berjalan, masjid tersebut telah diresmikan pada awal Mei 2018 meskipun pembangunan belum rampung 100 persen.
"Tapi niatan saya, masjid bisa digunakan masyarakat sekitar yang cukup sulit mengakses masjid yang 24 jam. Langganan saya juga jadi tak sudah cari masjid buat salat," ungkapnya.
Masjid hampir usai, usaha berdagang ayam Suciati tetap berjalan dengan skala besar. Ia kini memiliki karyawan sekitar 1.300 orang. Per hari, setidaknya Suciati menghabiskan sekitar 100 ton ayam untuk dua perusahaan makanan di Yogyakarta.
"Cita-cita saya kalau masjid sudah jadi, saya ingin punya rumah hafiz, pondok pesantren, dan taman reliji," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SUR)
