Ratusan Warga Ikut Tahlil di Makam Mbah Ma’shoem
Warga memadati komplek makam pendiri NU di lingkungan Masjid Jami Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Medcom.id/Rhobi Shani
Rembang: Usai menunaikan salat Asar, keluarga besar pengasuh pondok pesantren Alhidayat beserta santri menuju makam di komplek Masjid Jami Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Di sanalah Mbah Ma’shoem, pendiri pondok pesantren Alhidayat sekaligus salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, disemayamkan.

Tidak hanya keluarga dan santri, ribuan warga juga turut serta dalam tahlil haul satu abad pondok pesantren Alhidayat. Warga yang tidak mendapat tempat di area makam rela duduk di halaman masjid dengan beralas koran dan terpal.

Pengurus Masjid Jami Lasem, Abdullah Hamid menceritakan, Mbah Ma’shoem lahir pada tahun 1870 masehi. Pondok pesantren Alhidayat didirikan Mbah Ma’shoem pada tahun 1918 masehi.


"Sebelum membangun pondok pesantren, didahului dengan membangun musala pada tahun 1916 masehi," ujar Abdullah usai halaqah kebangsaan di pondok pesantren Alhidayat Lasem, Rabu, 14 November 2018.

Mbah Ma’shoem dikenal sangat toleran. Beliau senantiasa menjalin silaturahmi ke santri. Setiap tamu yang datang ke pondok pesantren diberi pernghormatan dan perlakuan yang baik.

"Aja nganti ana tamu ora isa kepethuk aku, yen aku turu gugah wis 1 jam (jangan sampai ada tamu tidak bisa bertemu saya, kalau saya tidur bangunkan kalau sudah 1 jam),” kata Abdullah menirukan pesan Mbah Ma’shoem.

Di komplek Masjid Jami Lasem juga terdapat makam dua tokoh pendiri NU lain dari Lasem. Mereka adalah Kiai Baidhowi Abdul Aziz dan Kiai Kholil Masyhuri.

"Mbah Ma’shoem wafat pada hari Jumat, 20 Oktober 1972 atau pada tanggal 12 Ramadan 1392 Hijriah, jam 2 siang. Setelah salat Jumat, dimakamkan di komplek masjid Jami Lasem," pungkas Abdullah.

 



(SUR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id