Bejo Supriyanto, petani bawang putih di Karanganyar, Jawa Tengah. Medcom.id/Pythag Kurniati
Bejo Supriyanto, petani bawang putih di Karanganyar, Jawa Tengah. Medcom.id/Pythag Kurniati (Pythag Kurniati)

Liku-Liku Petani Bawang Putih Karanganyar Kejar Mimpi Swasembada

pertanian petani kisah inspiratif Sosok Inspiratif
Pythag Kurniati • 16 Januari 2019 09:50
Karanganyar: "Indonesia bisa swasembada bawang putih, meskipun harus melewati naik turun perjalanan," kalimat itu diucapkan Bejo Supriyanto, petani bawang putih asal Kampung Pancot, Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, saat ditanya mengenai impiannya.
 
Optimisme memancar di mata Bejo saat ia mengisahkan jatuh bangun perjuangan mengembangkan komoditas bawang putih. Lebih 10 tahun lamanya ia menekuni profesi petani bawang putih.
 
Bejo menceritakan, di tahun 1975 hingga tahun 1990, komoditas bawang putih menjadi salah satu andalan petani. Sayang, era kejayaan bawang putih memudar sekitar tahun 1990 hingga 2000-an.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dulu menanam bawang putih lebih dari cukup untuk hidup. Kemudian lama-lama jeblok," kata Bejo prihatin.
 
Imbas kondisi tersebut, banyak rekan-rekan sesama profesinya beralih ke tanaman lain. "Mereka memilih menanam sayuran lain untuk menyambung hidup," ujar dia.
 
Namun tidak dengan Bejo. Ia tetap memilih fokus mengembangkan komoditas bawang putih. Bahkan di 2008 ia pun memimpin kelompok tani Taruna Tani Tani Maju agar Indonesia bisa mencapai swasembada bawang putih.
 
Liku-Liku Petani Bawang Putih Karanganyar Kejar Mimpi Swasembada
Bejo Supriyanto, petani bawang putih di Karanganyar, Jawa Tengah. Medcom.id/Pythag Kurniati
 
Perjalanan Kembangkan Bawang Putih
 
Berkilas balik, pada 1975, ada seorang sesepuh desa bernama Wiryo Sumarso. Sosok inilah yang menguji coba bibit bawang putih RRT pada lahan miliknya di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.
 
Mbah Wiryo, demikian ia biasa disapa, berpesan bawang putih tersebut tidak boleh dijual di pasaran sebelum anak cucunya berhasil mengembangkan komoditas. Bejo menjadi salah satu generasi yang menjaga amanat itu.
 
Tepat di era Menteri Pertanian Wardoyo komoditas tersebut diberi nama 'Tawangmangu Baru'. "Tepatnya sekitar tahun 1989," kata Bejo.
 
Mengembangkan dan menanam bawang putih Tawangmangu Baru tak semudah membalikkan telapak tangan. Dihantam persaingan bebas bawang putih impor, petani pun kembali lesu.
 
Bejo mengatakan, petani-petani bawang putih setempat kemudian mendapatkan pendampingan dari Bank Indonesia Perwakilan Solo. Tak hanya itu mereka juga bekerja sama dengan ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan varietas baru, bawang putih 'Tawangmangu Super'.
 
"Jadi bibit 'Tawangmangu Baru' dikembangkan melalui penggandaan kromosom dan menjadi 'Tawangmangu Super'," tutur Bejo.
 
Setelah melalui uji coba beberapa kali, akhirnya bawang putih Tawangmangu Baru kembali populer. "Cita-cita kami bisa memanen bawang putih berukuran besar seperti bawang China. Namun bercita rasa Indonesia; pedas serta beraroma," katanya.
 
Bejo mengaku akan menangkarkan benih pengembangan paling maksimal dari bawang putih 'Tawangmangu Super'. Hasil benih akan dibagikan pada petani lainnya.
 
"Harapannya, kesejahteraan petani meningkat kembali," tutup pria kelahiran 15 Maret 1975 itu.
 

(SUR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif