Lain Desanya, Beda pula Tradisi Baratan-nya
Tradisi Baratan di Jepara, menyambut bulan Ramadan, Medcom.id - Rhobi Shani
Jepara: Umat Islam menyambut Ramadan dengan suka cita. Di Jepara, Jawa Tengah, suka cita itu digambarkan dalam tradisi Baratan. Yaitu tradisi masyarakat Jepara menjelang Ramadan.

Istilah 'Baratan' digunakan dalam tradisi yang berlangsung di beberapa kecamatan. Istilahnya sama, namun tidak dengan penyelenggaraannya.

Biasanya, warga menggelar Baratan di pertengahan bulan Syaban dalam penanggalan Hijriah. Atau, sekitar tiga - dua pekan menjelang Ramadan. Waktu pelaksanaannya berbeda, tergantung pada kesepakatan warga. Namun, persamaan waktu pelaksanaannya yaitu malam.


Di Kecamatan Kalinyamatan, warga memulai tradisi itu dengan berdoa bersama di masjid atau musala usai Magrib. Warga membaca tahlil dan Surat Yasin di malam Nisfu Syaban atau malam ke-15 bulan Syaban.

Warga menyiapkan nasi puli untuk dibawa ke musala. Lalu, warga saling memberikan nasi puli.

"Nasi puli itu warnanya putih. Kenyal dan tidak keras. Nasi puli merupakan simbol hati yang bersih dari dosa, kuat tapi tidak keras maupun lembek," kata Abdimunif, budayawan yang terlibat dalam rangkaian tradisi Baratan di Kalinyamatan, Kamis 10 Mei 2018.

Setelah berdoa, warga menyalakan dilah atau lampion di rumah masing-masing. Kemudian mereka pawai mengeliling desa sambil membawa lampion.

Beda dengan Baratan di Desa Kendeng Sidialit, Kecamatan Welahan. Di desa tersebut, warga menerbangkan lampion usai acara doa bersama. Ada juga warga yang mementaskan kesenian dan budaya di panggung tengah desa.

“Pada dasarnya sama dengan tradisi baratan di desa-desa lain. Yaitu dimulai dengan berdoa bersama di musala atau masjid, kemudian dilanjutkan dengan menerbangkan lampion,” kata Wika Setiawan, budayawan dalam pentas seni dalam rangkaian tradisi baratan di Desa kendeng Sidialit.

Lampion juga dinyalakan dalam tradisi Baratan di Kelurahan Ujungbatu Kecamatan Jepara Kota. Pentas kesenian pun disajikan seperti musik tradisional dan tari nelayan Sernemi. Pelaksanaannya biasanya lima hari jelang bulan puasa.

“Karena kami berada di pesisir dan mayoritas masyarakat nelayan, jadi lampion sebagian besar dibentuk yang berhubungan dengan nelayan. Itu seperti bentuk ikan, udang, dan kapal,” ucap Herman, warga Kelurahan Ujungbatu.

Istilah Baratan berasal dari bahasa Arab, yaitu Baroatan. Kata tersebut berarti 'lembaran'. Artinya, pada tanggal 15 Syaban merupakan pergantian lembaran catatan amal perbuatan manusia menjelang Ramadan.

Lihat video:
 



(RRN)