Ilustrasi. Kesulitan air bersih di Kudus, Jawa Tengah. (ANT/Yusuf Nugroho)
Ilustrasi. Kesulitan air bersih di Kudus, Jawa Tengah. (ANT/Yusuf Nugroho) (Rhobi Shani)

Hadapi Kemarau, BPBD Kudus Siapkan 285 Tangki Air Bersih

kemarau
Rhobi Shani • 14 Juni 2019 13:55
Kudus: Puncak musim kemarau di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, diperkirakan terjadi pada Agustus. Sementara rentang waktu kemarau terjadi sejak Mei hingga November 2019. Perkiraan musim kemarau berdasarkan hasil dari prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
 
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, Bergas Catursari Penanggungan, mengatakan pihaknya menyediakan 280 tangki air bersih untuk mengatasi kekeringan. Setiap tangki berkapasitas  5.000 liter. Namun tidak menutup kemungkinan ada bantuan air bersih dari pihak swasta.
 
"Selama ini juga terdapat keterlibatan perusahaan untuk membantu air bersih. Termasuk potensi sumur air bersih yang bisa diakses maupun bantuan dari lembaga kemanusiaan lainnya," ujar Bergas, Jumat, 14 Juni 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Musim kemarau diduga akan membuat sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus mengalami kekurangan ketersedian air bersih. Sejumlah kecamatan rawan kekeringan yaitu Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Undaan, Kecamatan Jekulo, Kecamatan Dawe, dan Kecamatan Gebog.
 
"Di Kecamatan Kaliwungu desa yang rawan kekeringan yaitu, Desa Papringan, Banget, Sidorekso, Kedungdowo, Blimbing Kidul, dan Setrokalangan," kata Bergas.
 
Di Kecamatan Undaan, desa yang rawan kekeringan yaitu di Desa Kutuk, Glagahwaru, Terangmas, Kalirejo, dan Lambangan. Sementara di Kecamatan Mejobo yaitu di Desa Kesambi, Temulus, Hadiwarno, Jojo, dan Payaman
 
"Di Kecamatan Jekulo yang rawan yaitu di Desa Bulungcangkring, Bulung Kulon, Sidomulyo, Sadang, dan Pladen. Kecamatan Dawe di Desa Kandangmas. Dan Kecamatan Gebog di Desa Menawan," imbuh Bergas.
 
Bergas mengungkap, kemarau tidak hanya ancaman kekeringan. Ancaman kebakaran juga mengintai. Olehnya, dia mengimbau masyarakat untuk tidak membakar lahan maupun membuang puntung rokok sembarangan.
 
"Selanjutnya agar masyarakat tidak menggunakan beban listrik berlebihan. Kemudian kalau menyalakan api harus diawasi, jangan ditinggal," pungkas Bergas.
 

(LDS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif