Kepala BPBD DIY, Biwara Yuswanta mengatakan, tujuh dari 13 potensi bencana itu adalah bencana hidrometeorologi. Selain itu 301 dari 438 desa di DIY masuk dalam wilayah rawan bencana.
"Bencana hidrometeorologi di antaranya banjir, tanah longsor, gelombang tinggi, angin kencang dan tsunami. Bencana lainnya gempa, letusan gunung berapi, kebakaran hutan, kebakaran lahan dan ledakan nuklir," kata Biwara di Yogyakarta, Kamis, 25 Januari 2019.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Biwara menjelaskan, tanah longsor biasa terjadi di daerah perbukitan atau dataran tinggi seperti di Pegunungan Menoreh Kulon Progo, perbukitan di Prambanan dan Lereng Merapi Sleman dan dararan tinggi di Bantul dan Gunung Kidul.
Kecamatan di Kulon Progo yang sering terjadi longsor seperti Samigaluh dan Girimulyo, Kokap, Kalibawang, dan Nanggulan. Sementara di Gunung Kidul ada di kecamatan Ngawen, dan Gedang Sari.
Potensi longsor di Kabupaten Bantul ada di Selopamioro, Immogiri dan Piyungan. Sedangkan di Kabupaten Sleman ada di Kecamatan Prambanan, cangkringan, Turi dan Pakem. Titik rawan tsunami dan gelombang tinggi ada di wilayah sepanjang pantai laut selatan.
"Potensi tsunami di Kulonprogo ada di kecamatan Temon, Glagah, dan Galur. Kalau Bantul di Kretek, Sanden,dan Pundong. Kalau Gunung Kidul cenderung aman karena banyak karang di pinggir pantai. Hanya wilayah pantai saja yang rawan tsunami dan gelombang tinggi," beber Biwara.
Daerah yang rawan banjir sebagian besar terletak di muara sungai, dan dataran rendah seperti di Kabupaten Bantul dan Kulonprogo.
Di kabupaten Bantul, banjir paling sering melanda kecamatan Kretek, Pundong dan Bambalipuro. Banjir sering menggenangi sawah warga akibat aliran sungai yang terhambat karena banyaknya sampah
"Jadi sampah dari hulu sungai paling banyak tertumpuk di Bantul.Usai hujan deras bergenti, sungai penuh sampah air meluap ke sawah dan perkebunan warga," ungkap Biwara.
Titik banjir di Kulon Progo ada di kecamatan Temon dan Panjatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(DEN)
