Sejak 2016, Tercatat 22 Ibu Hamil Meninggal di Gunungkidul
Menurut para peneliti, perempuan hamil berusia 35 sampai 39 tahun memiliki risiko serangan jantung lima kali lebih besar. (Foto: Mel Elias/Unsplash.com)
Gunungkidul: Angka kematian ibu hamil di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta Sejak 2016 hingga pertengahan 2018, yang tercatat 22 Kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Dewi Irawati mengatakan, angka kematian ibu hamil pada 2016 ada sebanyak lima kasus. Setahun berselang, kasus bertambahnya menjadi sebanyak 12 kasus. 

"Tahun 2018 ini sudah terjadi lima kasus. Terjadi satu saja kasus sudah diaudit hingga pemerintah pusat," kata Dewi saat dihubungi Sabtu, 11 Agustus 2018.


Dewi menjelaskan, dengan belum berakhirnya tahun 2018 ini, kemungkinan bertambahnya jumlah kasus yang sama masih bisa terjadi.

Menurut Dewi, penyebab kematian ibu hamil tidak berkaitan kehamilan. Sejumlah kasus kematian ibu hamil, kata dia, diakibatkan penyakit takut jantung, tumor, hingga masalah hormon.

Menurut Dewi, perempuan yang memiliki penyakit tertentu disarankan menunda kehamilan. "Karena hal ini akan sangat berisiko," ungkap Dewi. 

Dewi kembali mengatakan, pihaknya akan berupaya menakan kasus itu meskipun tidak sebesar angka secara nasional. Menurutnya, pemerintah pusat telah mengimbau pencegahan kasus kematian ibu hamil hingga 100 persen.

Salah satu langkah yang dilakukan yakni dengan lebih banyak melakukan pendekatan ke setiap keluarga. "Cara ini kami kira bisa efektif dan komprehensif sebagai langkah antisipatif," beber Dewi. 

Sementara itu Kepala Seksi Kesehatan dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Triyana menambahkan, kasus kematian ibu hamil tak hanya terjadi pada ibu muda atau kehamilan pertama, namun juga meliputi ibu hamil yang sudah berusia sekitar 30 tahun.

Selain faktor kesehatan, menurut dia, usia ibu dalam masa hamil juga menjadi salah satu faktor kematian. "Ada sekitar sembilan ribu angka kehamilan itu per tahun di Gunungkidul. Kami akan intensifkan pemantauan, termasuk jika diperlukan melibatkan dokter kandungan," pungkas Dewi.



(DEN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id