Kapolres Wonogiri, AKBP Uri Nartanti, merilis kasus pembunuhan caleg DPRD Sragen
Kapolres Wonogiri, AKBP Uri Nartanti, merilis kasus pembunuhan caleg DPRD Sragen (Pythag Kurniati)

Dosen Bunuh Caleg Pakai Racun Tikus

pembunuhan
Pythag Kurniati • 24 April 2019 18:10
Wonogiri: Seorang dosen perguruan tinggi di Kediri, Nurhayati, diduga membunuh caleg DPRD Sragen dari Partai Golkar, Sugimin. Nurhayati membunuh korban menggunakan racun tikus yang dimasukan ke dalam kapsul. 
 
Kapolres Wonogiri, AKBP Uri Nartanti, mengungkap Sugimin yang maju sebagai caleg petahana meminta uang kepada Nur untuk modal pencalegan. Uri mengungkap, Nur selain dosen juga pengusaha konveksi. 
 
"Pernah Rp 10 juta, yang terakhir Rp 750 juta, tapi tidak dikasih," kata Uri dalam jumpa pers, Rabu, 24 April 2019.
 
Uri melanjutkan, korban sempat mengancam akan menculik anak Nur yang masih kelas 3 sekolah dasar. Nur merasa terancam, sehingga niat menghabisi nyawa Sugimin muncul. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pada 11 April, korban datang ke rumah tersangka, kebetulan sakit diare. Tersangka lalu memasukkan racun tikus ke kapsul diare yang diminum korban," ujarnya.
 
Uri menuturkan, tersangka iba saat melihat korban kesakitan setelah mengonsumsi obat diare dicampur racun tikus. Nur lantas membawa Sugimin ke RS Marga Husada, Wonogiri agar mendapat perawatan. 
 
Setelah dua hari dirawat, Sugimin dibolehkan pulang. Nur berencana membawa Sugimin ke Sragen. Namun, di tengah perjalanan Nur kembali memberi kapsul berisi racun tikus ke korban. 
 
"Karena korban kesakitan lagi, tersangka membawa korban ke RS dr Oen Solo Baru," ujarnya.
 
Setelah dirawat selama satu hari, korban lalu dibawa ke rumah saudara Nur di kawasan Giriwoyo. Nur kembali memberi kapsul berisi racun tikus ke Sugimin hingga tewas.
 
"Jadi meninggalnya di rumah itu. Saat dibawa ke rumah sakit itu kondisinya sudah tidak bernyawa," kata dia.
 
Uri mengungkap, Nur juga diduga menjual mobil korban. Tersangka dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.
 
"Ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup," tandasnya. 
 

(LDS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif