Ibu-ibu warga Desa Kendeng Sidialit membuat nasi puli. Medcom.id/Rhobi Shani
Ibu-ibu warga Desa Kendeng Sidialit membuat nasi puli. Medcom.id/Rhobi Shani (Rhobi Shani)

Budaya Nasi Puli Ala Sunan Kalijaga untuk Kerukunan

budaya
Rhobi Shani • 21 April 2019 18:13
Jepara: Nisfu Sya'ban yang jatuh pada tanggal 15 bulan ke depalan tahun Hijriah menjadi momentum tersendiri bagi masyarakat Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Hari yang jatuh di 21 April 2019 ini diperingati dengan tradisi baratan kala malam tiba.
 
Tradisi baratan sendiri sebagai ungkapan syukur muslim Jepara menyambut hari keberkahan yang dalam bahasa Arab disebu bara'ah. Hari ini juga diyakini sebagai hari pengampunan dosa.
 
Baratan juga berkait erat dengan Ratu Kalinyamat. Malam Nisfu Sya'ban pun dimeriahkan dengan festival arak-arakan Ratu Kalinyamat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ada hal yang lain dalam peringatan Nisfu Sya'ban hampir di tiap daerah di Kabupaten Jepara. Salahsatunya di Desa Kendeng Sidialit Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Puluhan ibu-ibu membuat nasi puli bersama.
 
Nasi puli ini diyakini masyarakat peninggalan dari Sunan Kalijaga untuk menyatukan umat pada saat itu.
 
Membuat nasi puli dimulai dari memasak beras, memberi obat bleng, lalu ditumbuk sampai pulen. Selanjutnya, nasi puli sepanjang 15 dikirab bersama dengan berbagai macam replika perahu, raksasa, mobil, dan hewan ternak.
 
KH Abdul Gofur, pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Kendengsidialit, menuturkan Sunan Kalijaga ingin mempersatukan umat Islam dan nonmuslim. Sunan Kalijaga saat itu memanfaatkan momentum Nisyfu Sya'ban.
 
Semua orang diajak memasak nasi yang diberi kunyit, garam dan bonggol serai, yang kemudian dikenal saat ini kerupuk puli.
 
"Jadi, nasi puli menjadi hidangan utama saat peringatan Nisfu Sya'ban. Itu karena kaitannya dengan Sunan Kalijaga yang ingin mempersatukan umat," ujar Abdul Gofur, Minggu, 21 April 2019.
 
Budaya Nasi Puli Ala Sunan Kalijaga untuk Kerukunan
Ibu-ibu warga Desa Kendeng Sidialit membuat nasi puli. Medcom.id/Rhobi Shani

 
Sebelum menyantap nasi puli, warga biasaya berkumpul di suatu tempat untuk melangsungkan doa bersama.
 
"Iya, baca surat yasin dan tahlilan secafa bersama-sama. Kadang di masjid, musala, atau di balaidesa," paparnya.
 
Sementara, Kepala Desa Kendengsidialit, Kahono Wibowo menyampaikan, tradisi baratan itu dilakukam rutin tiap tahun dalam memperingati hari Nisfu Sya'ban. Nasi puli sepanjang 15 meter diarak tanpa terputus, dengan harapan meningkatkan kerukunan warga.
 
"Ini momem kita bersama untuk berdoa demi kesejahteraan dan kerukunan warga. Selain membuat nasi puli, juga diadakan kirab di malam hari. Apa lagi pasca Pilpres, kerukunan warga harus dijaga setelah kemarin warga berbeda pilihan," kata Kahono.
 
Dia berharap, tradisi yang menjadi peninggalan leluhur tetap dilestarikan.
 
"Kami sediakam 200 kilogram beras untuk buat puli. Harapannya tradisi yang baik terus dapat dilestarikan," pungkas Kahono.
 
 
 

(SUR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif