Pabrik Gula Jatibarang
Pabrik Gula Jatibarang (Kuntoro Tayubi)

Pabrik Gula Jatibarang tinggal Sejarah

pabrik
Kuntoro Tayubi • 11 Februari 2019 12:56
Brebes: Pabrik Gula Jatibarang Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, kini tinggal sejarah. Pabrik peninggalan Belanda di zaman Hindia-Belanda sudah tidak beroperasi lagi di tahun 2019 ini.
 
“Karena besarnya biaya operasional dan perawatan serta berkurangnya lahan untuk penanaman tebu,” kata Staf Administrasi PG Jatibarang, Amirudin Amir, Senin, 11 Februari 2019.
 
Ia menjelaskan, PG Jatibarang merupakan komoditi yang diikutsertakan dalam program Cultuurstelsel. Saat itu, Pemerintah Hindia-Belanda membangun tiga pabrik gula di Brebes, yakni Jatibarang, Banjaratma, dan Kersana.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


PG Jatibarang didirikan pada tahun 1842 oleh NV Mij Tot Exploitile Der Surker Onderneming. Berdasarkan PP No.24 tanggal 16 April 1959 tentang penetapan perusahaan-perusahaan pertanian atau perkebunan, milik belanda dibawah penguasaan RI SK Mentan No.229/UM/57 tanggal 10 Desember 1957 dibentuk Pusat Perkebunan Negara Baru (PPN Baru).
 
Setelah kemerdekaan Indonesia, PG Jatibarang masuk dalam wilayah PTPN IX (Persero). Kemudian dari waktu ke waktu PG Jatibarang mengalami perubahan yang berdasarkan Peraturan Pemerintah dan kepemilikan.
 
Di sekitar Pabrik juga terdapat rumah tua yang dihuni oleh administrator (pimpinan Pabrik Gula). Namanya Mbesaran, berasal dari kata “Besar-an” yang artinya besar (Rumah Besar) sehingga masyarakat sekitarnya menyebutnya dengan nama “Mbesaran”.
 
\
Rumah Mbesaran
 
Dari tahun ketahun rumah Mbesaran ditempati oleh Administrator beserta keluarga dari mulai Pemerintahan Belanda hingga saat penyerahan pabrik gula dari Pemerintahan Belanda kepada Pemerintahan RI pada tahun 1957.
 
“Pada tahun 2009 masih ditempati oleh Administrator, namun di tahun 2010 Rumah Mbesaran sudah tidak ditempati oleh Administrator. Karena dirasa terlalu besar dengan kondisi saat ini,” kata Amir.
 
Sehingga, lanjur Amir, Administrator pada saat itu yakni Ir Djoko Wahjoediono mengambil kebijakan untuk tidak menempati rumah Mbesaran dan Rumah Mbesaran dijadikan sebagai Tempat Wisata dan dijadikan Museum.
 
Baca: Kompleks Rumdin Pabrik Gula Disulap Jadi Tempat Wisata
 
Selain Rumah Mbesaran, terdapat pula Stasiun Remise. Yakni salah satu Stasiun/Bagian dari beberapa Stasiun/Bagian yang ada didalam PG Jatibarang, seperti Stasiun Remise di PG – PG lain di Indonesia. Stasiun Remise PG Jatibarang termasuk yang paling Megah dan terbesar dari seni arsitekturnya.  
 
Stasiun Remise adalah tempat berkumpulnya Loko baik loko uap maupun diesel atau juga disebut sebagai Garasinya Loko. Bangunannya juga masih asli dengan arsitetur dan desain dari Belanda. Konon bangunan Stasiun Remise ini adalah yang terbesar dan termegah dibanding dengan milik Pabrik Gula di Dunia.
 

 
Kondisinya masih sangat baik dari mulainya didirikannya pabrik ini tahun 1842 hingga kini masih kokoh berdiri ini menandakan bahwa pada masa tersebut arsitektur bangunannya dibuat untuk jangka waktu yang lama sehingga kualitasnya sangat baik. Bangunan Stasiun Remise menghadap ke Timur dan terdiri dari 9 pintu masuk untuk Loko dan dapat menyimpan sekitar 10 loko atau lebih baik loko uap maupun loko diesel.
 
“Konon arsitek bangunan stasiun remise ini hanya ada dua di dunia. Salah satunya di PG Jatibarang, dan lainnya kalau tidak salah di Rusia. Itu menurut salah satu turis asing asal Jepang yang pernah berkunjung ke sini,” katanya.
 
Selain Stasiun Remise ada beberapa Stasiun lainnya. Stasiun Gilingan, yaitu tempat proses tebu masuk hingga tebu digiling untuk diambil Nira. Stasiun Pabrik Tengah, tempat proses nira masakan dari nira mentah menjadi nira kental. Stasiun Puteran, proses pengkristalan gula.
 
Stasiun Besali, sebagai tempat maintenance untuk memenuhi kebutuhan pabrik dalam hal pembuatan/pesanan pembuatan spare part. Stasiun Ketelan, Dimana proses pemanasan Air yang menjadi uap sebagai alat penggerak mesin d Stasiun Gilingan. Stasiun Listrik, Tempat instalasi listrik untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi pabrik.
 
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kabupaten Brebes, Wijanarto mengatakan, situs sejarah PG Jatibarang menjadi bagian penting dalam industri gula atau perkebunan tebu di dunia. Karena, Brebes pernah menjadi pengekspor tebu nomer 1 di dunia saat itu.
 
“Pengaruhnya sampai membentuk budaya indis bagi masyarakat sekitar pabrik. Yakni, percampuran antara budaya setempat dengan eropa,” kata budayawan asal Desa Kertasinduyasa, Kecamatan Jatibarang tersebut.
 
Wijanarto mencontohkan, adanya budaya petikan atau bancakan saat menjelang produksi gula (giling). Selain itu bentuk rumah yang memadukan arsitektur tropis, yakni jendela rumah yang besar-besar, atapnya tinggi dan terdapat sirkulasi udara yang tidak ada di Belanda.
 

(ALB)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi