Demikian disampaikan Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY Arofa Noor Indriani di Yogyakarta, Rabu, 17 Januari 2018. Bahkan, ujar Noor, hasil panen petani DIY dikirim ke daerah lain.
“Tidak perlu impor kami masih bisa mengandalkan produksi beras sendiri,” tegas Noor.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Menurut Noor, produksi gabah pada 2017 mencapai 900 ribu ton. Setelah diolah, gabah menghasilkan 600 ribu ton beras.
Sementara kebutuhan beras untuk warga DIY, lanjut Noor, hanya 47 ribu ton per bulan. Dalam setahun, kebutuhan beras kurang lebih 564 ribu ton.
"Kalau dikalkulasi setahun masih ada kelebihan,” katanya.
Setiap tahun, sebanyak 20 persen hasil panen dikirim ke luar provinsi. Biasanya, Jakarta dan Jawa Tengah.
Noor mengatakan cadangan beras di DIY masih cukup hingga tiga bulan ke depan. Ia juga menginformasikan hal tersebut ke pemerintah pusat.
Pada Februari, ujar Noor, petani akan panen raya. Ia optimistis panen raya periode pertama mampu menghasilkan 400 ribu ton gabah. Pemprov menargetkan 900 ribu ton gabah pada tahun ini.
Terpisah, Ketua III Tim Pengendali Inflansi Daerah (TPID) DIY, Budi Hanoto mengatakan provinsi DIY belum butuh beras impor. Kebutuhan masyarakat masih bisa ditopang dengan hasil panen petani lokal DIY. Jikalau pemerintah pusat tetap mengirimkan beras impor, pihaknya akan sangat selektif untuk mendistribusikannya.
“Penggunannya akan sangat selektif dan digunakan dalam situasi emergency saja dan kalau butuh banget,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
