Pegiat Satwa Protes Sirkus Lumba-lumba di Yogyakarta
Tempat pertunjukan sirkus lumba-lumba di acara Sekaten Yogyakarta, Rabu, 31 Oktober 2018. Medcom.id-Ahmad Mustaqim.
Yogyakarta: Pegiat satwa di Yogyakarta memprotes kegiatan sirkus lumba-lumba yang dihelat di acara pasar malam Sekaten Alun-alun Utara, Yogyakarta yang berlangsung 2-19 November 2018. Sirkus ini untuk kesekian kalinya dilakukan di acara Sekaten tersebut.

Aktivis Animal Friends Jogja (AFJ), Dessy Zahara Angelina Pane mengatakan, sirkus lumba-lumba menjadi bentuk eksploitasi satwa dilindungi. Satwa seperti lumba-lumba tersebut seharusnya dilepasliarkan. 

"Kalau alasannya (lumba-lumba) seperti harus direhabilitasi, bukan malah dieksploitasi, bukan diperbudak," kata Dessy saat ditemui di bilangan Jalan Hayam Wuruk, Kota Yogyakarta, Rabu, 31 Oktober 2018. 


Penyelenggaran sirkus lumba-lumba tersebut berasal dari Jakarta. Menurut Dessy, penyelenggara sirkus satwa harusnya memiliki kewajiban dan pedoman tentang etika kesejahteraan satwa untuk konservasi. Misalnya, kata dia, tidak boleh ada suara gaduh.

"Tapi apa yang terjadi? (Di acara pertunjukan sirkus) tak ada yang tidak gaduh. Padahal lumba-lumba ini sensitif dengan kegaduhan," jelas Dessy.

Dessy mempertanyakan kebijakan pemerintah yang tak tegas menegakan aturan. Sejumlah lembaga konservasi yang justru mengadakan sirkus tapi didiamkan. 

Dessy berharap pemerintah bisa memantau dengan baik penerapan standar dalam penjagaan satwa yang digunakan untuk pertunjukan sirkus. "Kami berusaha membahas kembali pedoman peragaan untuk lumba-lumba. (Aturan) peragaan lumba-lumba yang dibuat tidak bersama kami, itu hanya dibuat pemerintah dan para pemilik sirkus," pungkas Dessy.

Sementara Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY, Junita Parjanti mengatakan, pertunjukan sirkus lumba-lumba di Sekaten Yogyakarta telah memiliki perizinan lengkap. Ia menyebut, perusahaan penyelenggaran sirkus masih memiliki izin hingga 2019.

"Yang namanya peragaan itu ada aturannya dan diperkenankan. Saat akan melakukan kegiatan pasti sudah melalui kajian. Kajian macam-macam, dari sisi kandangnya, kehidupannya, kesehatannya, itu harus terpenuhi semua. Perizinannya terutama," ucap Junita.

Junita mengaku jika lembaganya sudah melakukan pemeriksaan terhadap persyaratan penyelenggaraan sirkus satwa lumba-lumba itu. Ia beranggapan pertunjukan itu memiliki nilai edukasi.

"Prinsipnya kalau kami, satwa harus hidup liar di alamnya, tidak dieksploitasi maupun tontonan. Itu dari sisi konservasi. Dari perkembangan satwa, memang ada satawa yang tak bisa dilepasliarkan di alam karena dia tak akan fight ketika dia sudah lama dipelihara manusia. Terbiasa makanan instan. Itu harus melalui proses rehabilitasi panjang. Prinsip konservasi harus ke situ," pungkas Junita.



(DEN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id