Warga mengambil air dari lubang yang digali di dasar sungai yang mengering di Dukuh Sasak, Toroh, Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (25/7). ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho. (Antara)
Warga mengambil air dari lubang yang digali di dasar sungai yang mengering di Dukuh Sasak, Toroh, Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (25/7). ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho. (Antara) (Ahmad Mustaqim)

Empat Kecamatan di Gunungkidul Mulai Terdampak Kemarau

krisis air bersih
Ahmad Mustaqim • 14 Juni 2019 16:30
Yogyakarta: Masyarakat di empat kecamatan Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai mengalami dampak musim kemarau. Empat kecamatan itu yakni Paliyan, Girisubo, Tepus, dan Rongkop. 
 
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edi Basuki, mengatakan masyarakat di empat kecamatan itu sudah mengajukan permohonan bantuan air bersih. Bantuan air bersih yang dikirimkan menyesuaikan permintaan. 
 
"Kami sudah koordinasi dengan camat Paliyan dan Girisubo sudah ada permintaan dropping. (Kecamatan) Tepus dan Rongkop, sudah. Jadi ada empat kecamatan yang sudah mengajukan droping air. Kami sudah buatkan jadwal dan mulai lakukan dropping," ujar Edi saat dihubungi Medcom.id di Yogyakarta, Jumat, 14 Juni 2019. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia mengatakan, Kecamatan Girisubo dan Paliyan sudah lebih dulu mengajukan permohonan bantaun air bersih sebelum Lebaran 2019. Adapun Kecamatan Tepus dan Rongkop menyusul seteleh Lebaran. 
 
Edi mengakui, empat kecamatan itu menjadi lokasi langganan terdampak kekeringan saat kemarau. Selain keterbatasan sumber air baku, juga tidak adanya jaringan air perpipaan, seperti PDAM.
 
"Hal itu ditambah sudah beberapa bulan tidak turun hujan. Bak penampungan air sebagai cadangan juga sudah habis," katanya. 
 
Dia mengatakan, Kecamatan Paliyan menjadi salah satu wilayah yang memiliki tangki. Keberadaan tangki bisa membantu warga, karena bisa memberi pasokan air bersih secara mandiri.
 
"Kami ingin jaringan PDAM meng-cover kebutuhan, pengeboran (sumber air), dicarikan dana pusat atau swasta. Kami ada anggaran sekitar Rp528 juta untuk musim kemarau tahun ini," tuturnya.
 
Edi memastikan, berbagai lokasi obyek wisata tak akan kekurangan air bersih. Lokasi wisata bagian selatan yang berdekatan dengan pantai, masih memiliki cadangan air bawah tanah. Begitu juga dengan kawasan wisata di bagian utara, Gunungkidul, belum mengajukan permohonan bantuan air bersih. 
 

(LDS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif