Ilustrasi/Medcom.id.
Ilustrasi/Medcom.id. (Rhobi Shani)

23 Ribu Jiwa di Jepara Berpotensi Terdampak Kekeringan

kemarau dan kekeringan
Rhobi Shani • 14 Juni 2019 14:55
Jepara: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, memprediksi puncak musim kemarau terjadi di Bumi Kartini pada Agustus. Sebanyak 23 ribu jiwa berpotensi mengalami krisis air bersih dan kekeringan.
 
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, Arwin Nor Isdiyanto menyampaikan, warga yang berpotensi terdampak kekeringan dan krisis air bersih tersebar di 37 desa. Kecamatan yang warganya paling banyak berpotensi terdampak kekeringan dan krisis air bersih adalah Kecamatan Keling. Jumlahnya mencapai 4.169 jiwa.
 
“Di Kecamatan Mayong ada 2.406 jiwa berpotensi terdampak kekeringan. Kemudian, di Kecamatan Kedung sebanyak 2.209 jiwa dan di Kecamatan Nalumsari sebanyak 2.185 jiwa,” terang Arwin, Jumat, 14 Juni 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kekeringan dan krisis air bersih berpotensi terjadi di semua kecamatan di Kota Ukir. Potensi kekeringan paling kecil di Kecamatan Pakisaji, Jepara Kota,  Kembang, Batealit, dan Karimunjawa. Masing-masing potensi kekeringan hanya terjadi di satu desa.
 
“Pakisaji di Desa Plajan, Kecamatan Kota di Kelurahan Kauman, Kembang di Desa Pendem, Batealit di Desa Raguklampitan, Karimunjawa di Desa Kemujan,” ungkap Arwin.
 
Berkaca pada penanganan kekeringan dan krisis air bersih tahun lalu, BPBD Jepara menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi musim kemarau tahun ini. Dianataranya menyiapkan tenaga droping. Juga menyiapkan dua truk tangki, 43 set tandon air ukuran 1.000 liter dan 10 set tandon air ukuran 2.000 liter.
 
“Kami juga akan merangkul dunia usaha untuk menyalurkan CSR guna mendanai pengiriman air bersih,” pungkas Arwin.

 

(ALB)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif