'Perjuangan' Macan Kurung Jepara Bertahan Hidup

Rhobi Shani 12 September 2018 14:34 WIB
seni
'Perjuangan' Macan Kurung Jepara Bertahan Hidup
Suyato, pengukir asal Jepara, tengah membuat asbak. Suyato merupakan salah satu pengukir yang bisa membuat ukiran Macan Kurung, Medcom.id - Rhobi Shani
Jepara: Angin dari laut berhembus kencang menerbangkan debu dan plastik di halam rumah Suyato di Jepara, Jawa Tengah. Di teras rumah yang hanya berjarak kurang dari 50 meter dari bibir pantai itu, terdapat dua ember berisi kayu jati limbah mebel. Di samping ember berwarna hitam, terdapat belahan kayu, di atasnya pahat berserakan.

Saat Medcom.id datang, pemilik rumah, Suyato tengah berbaring di dalam rumah di depan televisi. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Suyato terbangun. Di teras rumah, Suyato bercerita tentang ukiran khas Jepara, Macan Kurung.

“Sekarang buat ini, pesanan Macan Kurung sudah jarang,” ujar Suyato dalam bahasa Jawa sembari menunjukan asbak ukiran kuda, Rabu, 12 September 2018.


Suyato menceritakan, ukiran Macan Kurung adalah khas Jepara. Keistimewaan ukiran ini, dibuat dari batang kayu berbentuk kurungan yang di dalamnya terdapat macan, dua bola, dan rantai. Pembuatannya tanpa proses sambung.

“Butuh waktu satu bulan lebih untuk membuat Macan Kurung dan tidak semua pengukir bisa membuat karena butuh ketelatenan dan kesabaran,” kata Suyato sambil melanjutkan pekerjaan membuat asbak.

Meski jadi ikon Kota Ukir, ukiran macan kurung kini diambang kepunahan. Sebab, tak banyak pengukir yang bisa membuat ukiran macan kurung. Selain itu, ukiran macan kurung saat ini tak banyak diminati masyarakat.

“Harganya mahal. Kalau ada pesanan baru saya buat. Sekarang paling hanya beberapa orang saja yang bisa membuat. Saya terakhir dapat pesanan macan kurung sekitar enam tahun yang lalu,” ungkap Suyato dengan mengecilkan suara radio.

Dengan duduk lesehan di lantai semen di teras rumah, Suyato membeberkan, ukiran macan kurung kali pertama dibuat oleh Asmo Sawiran, yaitu adik Singo Wiryo. Pada masa itu, Singo Wiryo mendapat pesanan membuat ukiran dari RA Kartini untuk dipasarkan ke Eropa.

“Yang dekat dengan Kartini itu Singo Wiryo, yang membuat Mbah Sawiran,” ungkap suami Sumarni, warga Desa Mulyoharjo.

Ditemui di rumahnya di sentra ukir dan patung Mulyoharjo, sesepuh Desa Mulyoharjo, Kusnan Hadi Wijaya menceritakan, Suyato merupakan cicit Asmo Sawiran. Orangtua Suyato, yaitu Sunardi merupakan cucu Asmo Sawiran. Suyato merupakan cucu Sarwi, yaitu anak Asmo Sawiran.


(Macan kurung, ukiran khas Jepara, yang nyaris punah, Medcom.id - Rhobi Shani)

“Orangtua Asmo Sawiran seorang empu pembuat senjata. Setelah membuat pesanan macan ukir, Asmo Sawiran menggantikan Singo Wiryo sebagai petinggi belakang gunung,” tutur Kusnan sambil menunjukan ukiran lambang negara Garuda Pancasila yang dibuatnya pada tahun 1970-an.

Ukiran macan kurung tidak asal dibuat begitu saja. Disampaikan pria beruban itu, ukiran macan kurung merupakan simbol harapan dan perlawanan masyarakat dapa masa penjajahan. Belanda yang menjajah negeri ini, disimbolkan dengan macan. Yaitu hewan ganas yang memakan apa saja. Sehingga harus di kurung agar tidak mengancam manusia.

“Macan di dalam kurungan diikat rantai maksudnya, macan yang galak bisa saja mendobrak kurungan jeruji-jeruji, sehingga harus masih diikat dengan rantai agar lebih aman, meskipun sudah di dalam kurungan,” kata Kusnan yang saat ditemui mengenakan sarung merah motif kotak-kotak.

Kusnan menambahkan, saat ini tidak banyak warga Mulyoharjo yang dapat membuat ukiran macan kurung. Dalam hitungannya, kurang dari sepuluh orang warga Mulyoharjo yang dapat membuat ukiran macan kurung.

Kusnan mengaku ia tak bisa membuat ukiran itu. Sepengetahuannya, hanya tiga orang yang bisa melakukan ukiran tersebut.

"Itupun keturunan Asmo Sawiran," ujar pria berusia 76 tahun itu.



(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id