Perempuan Anemia Berpotensi Lahirkan Anak Kerdil
Ilustrasi makanan bergizi, dok: Pixabay
Jepara: Sebanyak 50 persen remaja putri di Jepara, Jawa Tengah, mengalami anemia. Remaja yang mengalami kondisi kekurangan sel darah merah berisiko melahirkan anak yang kerdil atau stunting. 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara M Fakhrudin mengatakan kasus stunting cukup tinggi. Namun ia tak bisa menyebutkan angkanya.

Menurut Fakhrudin, stunting terjadi bukan hanya akibat kekurangan gizi. Tapi, kondisi kesehatan perempuan yang melahirkan anak-anak pun juga berperan dalam masalah tersebut.


Baca: JK: Indonesia Kritis Stunting

"Problemnya, mulai dari remaja. Yaitu anemia," kata Fakhrudin di Jepara, Selasa, 13 Maret 2018.

Fakhrudin mengatakan anemia berkaitan dengan kondisi anak yang dilahirkan. Normalnya, perempuan yang mengalami menstruasi membutuhkan nutrisi dan zat besi untuk memproduksi sel darah merah yang terbuang.

Bila nutrisi tak terpenuhi, siklus kesuburan remaja akan terganggu. Saat hamil, bayi di dalam kandungan mendapat asupan gizi dari ibunya.

Sel darah merah itu yang berfungsi membawa makanan dan oksigen pada bayi di dalam kandungan. Bila sel darah merah berkurang, asupan gizi pada janin pun bermasalah. Sehingga bayi lahir dengan kondisi kerdil.

“Jadi stunting bukan hanya faktor gizi. Tapi juga kesadaran perempuan untuk mendapat asupan gizi. Potensi stunting dimulai dari remaja," ujar Fakhrudin.

Jadi, Fakhrudin mengingatkan warga dan perempuan di Bumi Kartini untuk peduli dengan makanan. "Lebih baik membeli makanan bergizi ketimbang kepentingan lain, seperti perhiasan," lanjut Fakhrudin.




(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id