Warga di Desa Banguncipto, Kecamatan Sentolo, Kulon Progo saat mengambil air. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
Warga di Desa Banguncipto, Kecamatan Sentolo, Kulon Progo saat mengambil air. Medcom.id/Ahmad Mustaqim (Ahmad Mustaqim)

Warga DIY Kesulitan Cari Sumber Air

kemarau dan kekeringan
Ahmad Mustaqim • 13 Oktober 2018 17:12
Yogyakarta: Kemarau menyebabkan warga di Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami krisis air. Embung Nglanggeran di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul dan embung di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran yang selama ini jadi obyek wisata mengering.
 
"(Embung) hanya menyisakan geomembran yang berfungsi untuk menampung air," ujar Sugeng Handoko, pengelola wisata di Nglanggeran, Sabtu, 13 Oktober 2018.
 
Debit air Embung Nglanggeran sudah tiga bulan terakhir menyusut. Padahal, embung tersebut biasanya digunakan untuk pengairan perkebunan buah-buahan di sekitarnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Airnya habis karena untuk memberikan asupan air untuk daerah sekitar. Wisatawan kiranya bisa mengambil foto di bagian dasar embung juga, dengan catatan berhati-hati," katanya.
 
Warga DIY Kesulitan Cari Sumber Air
Kondisi Embung Nglanggeran yang kering saat musim kemarau. Foto: Istimewa
 
Dua bulan mencari sumber air
 
Hal serupa juga terjadi di Desa Banguncipto, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Supardi, warga Desa Banguncipto, Kecamatan Sentolo, Kulon Progo, menyebut kekeringan sudah mendera wilayahnya dua bulan belakangan. Upaya pengeboran untuk mencari sumber air telah dilakukan.
 
"Beberapa waktu lalu itu bikin sumur bor puluhan meter, tapi tidak cukup untuk warga sekitar," katanya.
 
Ia mengatakan kekeringan panjang baru dirasakan tahun ini. Beruntung, saluran irigasi yang berasal dari sumber air di Kalibawang, Kulon Progo, bisa mengairi wilayah tersebut.
 
"Sempat ada perbaikan saluran irigasi, dan selesai. Katanya (saluran irigasi) sudah dibuka, tapi masih jalan mengairi lahan-lahan yang sudah sangat kering," ungkapnya.
 
Kepala Stasiun Klimatologi Mlati Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Agus Sudaryatno mengatakan, DI Yogyakarta memasuki musim pancaroba. Ia memperkirakan awal musim hujan terjadi pada November 2018.
 
"Jika terjadi hujan nanti curahnya tidak langsung besar. Akhir Oktober atau awal November kira-kira akan mulai terjadi hujan dengan intensitas tertentu," ujarnya.
 
 

(SUR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi