Khunainah bersama anaknya yang lumpuh tinggal di tempat Mandi, Cuci, Kakus (MCK) Plus, Desa Karangrandu Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Kamis, 14 Maret 2019. Medcom.id/ Rhobi Shani.
Khunainah bersama anaknya yang lumpuh tinggal di tempat Mandi, Cuci, Kakus (MCK) Plus, Desa Karangrandu Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Kamis, 14 Maret 2019. Medcom.id/ Rhobi Shani. (Rhobi Shani)

Khunainah dan Anaknya yang Lumpuh Tinggal di Ruang MCK

kemiskinan
Rhobi Shani • 14 Maret 2019 14:49
Jepara: Khunainah, warga Desa Karangrandu Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, tinggal tempat Mandi, Cuci, Kakus (MCK) Plus. Perempuan 44 tahun itu tak sendiri, dia tinggal di WC umum itu bersama seorang anaknya yang lumpuh, Fahmi Hardiansyah.
 
Khunainah menempati ruang berukuran 3x3 meter. Ruangan itu hanya memiliki satu pintu. Sedianya, ruangan itu untuk penjaga MCK Plus.
 
"Maaf ya, anak saya sedang sakit, muntah terus. Jadi bajunya kotor semua. Belum sempat mencuci. Semalaman saya tidak bisa tidur, jadi rasanya saya juga ikut sakit," kata Khunainah kepada Medcom.id di lokasi, Kamis, 14 Maret 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Khunainah menjelaskan, kondisi anaknya Fahmi tengah tergolek lemah di kasur lantai. Anaknya tersebut sedang sakit sejak sekitar dua hari lalu. 
 
Ruangan di MCK Plus itu jadi tempat berlindung Khunainah dan anaknya dari terik dan hujan sejak 10 bulan lalu. Meski demikian, ruangan itu tak gratis. Setiap bulan Khunainah harus membayar uang listrik Rp15 ribu kepada pengurus RT setempat.
 
Khunainah dan Anaknya yang Lumpuh Tinggal di Ruang MCK
Khunainah bersama anaknya yang lumpuh tinggal di tempat Mandi, Cuci, Kakus (MCK) Plus. Medcom.id/ Rhobi Shani.
 
"Tapi sekarang sudah tidak bayar lagi. Saya bersyukur, bantuan juga sering dapat. Dari PMI, dari Pak Inggi (kepala desa) juga dari warga sekitar. Saya tidak bisa bekerja. Kalau (Fahmi) saya tinggal kerja sama siapa," jelas Khunainah.
 
Menurut Khunainah, anaknya itu memang telah lumpuh sejak lahir. Lahir pada usia kandungan delapan bulan, kondisi Fahmi mengalami ketidaknormalan pada kaki dan tangan kanannya, yang kaku tak bisa digerakkan. Namun untuk berkomunikasi, Fahmi masih mampu, meskipun tidak aktif.
 
Khunainah mengaku sebagai warga asli Desa Karangrandu. Hanya saja, setelah menikah dan memiliki seorang putri ia mengikuti suaminya tinggal di kawasan Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Di Ibukota, ia dikaruniai lagi seorang buah hati yakni Fahmi.
 
Khunainah mulanya tercatat sebagai warga Desa Karangrandu. Setelah menikah, dia tinggal bersama suaminya di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pernikahannya membuahkan dua anak. Yaitu Nurul, anak perempuan yang kini kerja di Malaysia dan Fahmi.
 
"Suami saya pamit setahun setelah Fahmi lahir. Sejak itu tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Lalu ketika anak saya yang pertama Nurul Fajriyah, masuk SMP dan Fahmi umur 9 tahun, saya ajak pindah ke Desa Karangrandu. Karena rumah orang tua saya sudah dijual, saya akhirnya ngontrak beberapa kali, sampai saya kesulitan biaya dan tinggal di sini (MCK)," kenang Khunainah.
 
Khunainah pun tak tahu pasti apa kerja anak perempuannya. Sebelum ke Malaysia, Nurul bekerja di Jakarta, kemudian ke Batam. Lalu pindah ke Pangkal Pinang. "Terkadang saya dikirimi uang oleh Nurul, tapi tidak pasti. Saya berharap ia segera pulang," beber Khunainah.
 
Selain menggantungkan pada belas kasihan orang, Khunaini mengaku kerja sambilan sebagai pembuat gelang. Hasilnya tak seberapa, hanya tiga ribu rupiah dengan sistem borongan.
 
Sementara Kepala Desa Karangrandu Syahlan mengakui kondisi tersebut. Ia menjelaskan, Khunainah memang sebelumnya warga asli desanya, namun karena sempat pindah ke Jakarta seluruh data kependudukannya masih belum dimutasi.
 
"Saat ini kami sedang mengurus administrasi kependudukannya. Kemarin untuk Kartu Keluarga (KK) sudah jadi. Saat ini tengah menunggu KTP dengan domisili di sini (Karangrandu) jadi. Dengan berkas itu rampung, kami harap bantuan dari kabupaten maupun jaminan sosial bisa turun," jelas Syahlan.
 
Dijelaskan Syahlan, fasilitas yang digunakan oleh Khunainah dan Fahmi merupakan ruang penjaga MCK Plus Desa Karangrandu. Karena kosong tak ada yang menempati, akhirnya Ketua RT03 RW05 memperbolehkan keduanya menempatinya.
 
Adapun, kewajiban untuk membayar listrik setiap bulannya sudah diambil alih oleh Syahlan.
 
"Untuk bayar listriknya, saya tanggung dari uang pribadi saya. Cuma yang penting itu, agar administrasi kependudukannya segera selesai, agar bantuan kesehatan pada anaknya juga bisa dikucurkan. Selain itu, warga sekitar juga bersimpati memberikan bantuan makanan," pungkas Syahlan.
 

(DEN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi