Warga memilah sampah yang diangkut dari perairan Karimunjawa lalu akan dibuat menjadi bahan bakar minyak, Medcom.id - Rhobi Shani
Warga memilah sampah yang diangkut dari perairan Karimunjawa lalu akan dibuat menjadi bahan bakar minyak, Medcom.id - Rhobi Shani (Rhobi Shani)

Di Karimunjawa, Sampah Plastik Diolah Jadi Solar

Sosok Inspiratif
Rhobi Shani • 24 Januari 2019 15:44
Jepara: Pulau Karimun Jawa merupakan primadona wisata di Jepara, Jawa Tengah. Pengunjung yang terus berdatangan mengakibatkan sampah plastik kian menumpuk. Tapi di tangan Djati Utomo, sampah menjadi bahan bakar alternatif.
 
Keindahan laut mengundang di balik air yang jernih. Ikan beraneka warga hingga ke dasar laut. Terubu karang yang menambah panorama. Pantai pasir putih memanjang. Plus, matahari di kala senja maupun terbit menjadi pemikat.
 
Mata mana yang tak sedap memandang keindahan itu. Itu pula yang menjadi kekuatan Karimunjawa. Wisatawan dalam maupun luar negeri terus berdatangan, untuk menikmati sensasi keindahan alam.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



 
(Jambrong (berbaju hitam) dan beberapa warga mengangkut sampah dari pantai di Karimunjawa, Jepara, Medcom.id - Rhobi Shani)
 
Seiring tenarnya Karimunjawa, masalah lain muncul. Sampah plastik menumpuk, di darat maupun perairan. Pantai jadi tak sedap dipandang lagi. Belum lagi biota laut yang kenyamanan dan kelestariannya terancam. Sebab plastik bukan jenis sampah yang mudah terurai. Butuh puluhan tahun agar alam mengurai zat pada plastik.
 
Keprihatinan itu dirasakan Djati Utomo atau yang akrab disapa Jambrong. Ia lalu mengajak teman-temannya untuk peduli pantai. 
 
Bermula dari 2012, Jambrong merintis gerakan resik-resik pantai. Kegiatan diikuti 25 orang dengan biaya secara swadaya.
 
"Aksi itu murni untuk menjaga Karimunjawa tetap bersih," ungkap Jambrong kepada Medcom.id, Kamis, 24 Januari 2019.
 
Menurut Jambrong, 25 orang turut dalam kegiatan itu merupakan jumlah yang banyak. Tapi tak sedikit pula yang mencibir. Jambrong tak ambil pusing. Toh, ia melakukan kegiatan itu untuk manfaat bersama, terutama warga di Karimunjawa.
 
Di awal-awal kegiatan, Jambrong dan skuadnya bersih-bersih pantai saat musim angin barat. Mereka menemukan potongan kayu, bambu, plastik, dan sampah lain. Tumpukan paling banyak ditemukan di Pelabuhan Barat.
 
Lima tahun kemudian, kegiatan itu menjadi rutin di Karimunjawa. Yang berkontribusi pun banyak. Bukan hanya warga, tapi juga pengelola hotel dan wisatawan turut membersihkan sampah.
 
Semula, mereka hanya menumpuk dan membakar sampah. Tapi belakangan, Jambrong dan rekan-rekannya menyulap sampah plastik menjadi tak sekadar tumpukan.
 
Jambrong memilah dan mencuci sampah plastik hingga bersih. Pria kelahiran 9 Agustus itu lalu menjemur sampah plastik.
 
Kemudian, ia memasukkan sampah ke tabung mesin pirolisis. Alat itu berfungsi mengurai sampah dengan sistem pemanasan di dalam tabung.
 
"Mesin atau tabungnya bisa dibuat sendiri," ujar pria berusia 35 tahun itu.
 

(Mesin pirolisis yang dibuat warga Jepara untuk mereduksi sampah plastik menjadi solar, Medcom.id - Rhobi Shani)
 
Proses itu menghasilkan bahan bakar minyak jenis solar. Tiap 7 kilogram plastik kering menghasilkan solar sebanyak 5,5 liter; 0,3 premium; dan minyak tanah. Residunya meninggalkan karbon.
 
"Karbonnya ditabur di tanah. Dalam tiga bulan, kondisi tanah netral kembali. Tapi kalau plastik bisa diurai tanah dalam waktu kurang lebih 130 tahun," ungkap Ketua Yayasan Pitulikur Pulo Karimunjawa itu.
 
Untuk saat ini, lanjut Jambrong, hasil pirolis masih untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Boleh jadi, hanya Jambrong yang melakukan proses tersebut di Jepara.
 
Memang, lanjut Jambrong, bila dilihat dari sisi ekonomi, proses itu tak menguntungkan. Sebab, jumlah bahan bakar yang dihasilkan tak banyak.
 
"Tapi misi kita tidak mencari keuntungan dari proses itu. Kami mencari solusi untuk menangani sampah, terutama sampah plastik," ujar Jambrong.
 
Plastik, ungkap Jambrong, memang akan menguasai dunia. Tapi, Jambrong berpendapat sampah bukanlah sesuatu yang diwariskan pada anak cucu.  
 
Berbekal pendapat itu, Jambrong mulai mengenalkan alat-alat itu ke warga. Ia pun bersuka cita membantu warga untuk memiliki mesin pirolis.
 

(RRN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi