Suratimin menunjukkan hasil kerajinan radio dari tanaman hutan rakyat. Medcom.id/ Ahmad Mustaqim.
Suratimin menunjukkan hasil kerajinan radio dari tanaman hutan rakyat. Medcom.id/ Ahmad Mustaqim. (Ahmad Mustaqim)

Hutan Rakyat di Gunungkidul Kuatkan Perekonomian Warga

Sosok Inspiratif
Ahmad Mustaqim • 24 Januari 2019 07:39
Gunungkidul: Suratimin Sukro Utomo merasa resah pada 2004 silam. Warga Dusun Salak, Desa Semoyo, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta gelisah karena kondisi lingkungan yang gersang.
 
Dengan semangat mengembangkan desa, mereka mengembangkan hutan rakyat hingga berdampak pada penguatan ekonomi warga. Suratimin mengatakan, dirinya bersama sekitar 20 warga mulanya bergerak bersama membentuk kelompok tani bernama Masyarakat Peduli Petani (MPP), yang belakangan berganti nama menjadi Serikat Petani Pembaharu (SPP).
 
Melalui kelompok ini kemudian menjadi wadah para petani untuk belajar. Salah satu hal yang dilakukan yakni memperbaiki kondisi hutan rakyat seluas 475 hektar yang banyak gundul. Lelaki kelahiran 1 Mei 1959 ini menyebutkan, populasi tanaman hutan saat itu sangat sedikit dibanding tanaman pangan. Padahal, luas wilayah Desa Semoyo sekitar sekitar 575 hektar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bukan cuma dianggap desa gersang waktu itu, warga desa juga dianggap sebagai daerah miskin," kata Suratimin kepada Medcom.id, Rabu, 23 Januari 2019.
 

Berbagai kreasi hasil tanaman hutan rakyat di rumah Suratimin. Medcom.id/ Ahmad Mustaqim.
 
Berbagai pembalajaran kemudian dilakukan. Baik dengan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) hingga bantuan pembelajaran dari pemerintah hingga sejumlah perguruan tinggi. Perguruan tinggi tersebut di antaranya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Institut Pertanian (Instiper) Yogyakarta, Universitas Diponegoro Semarang, hingga Universitas Tarumanegara Jakarta. Warga desa tersebut melakukan penanaman ribuan tanaman hutan.
 
Suratimin menerangkan, ada lima jenis tanaman hutan utama yang ditanam, yakni akasia, mahoni, jati, sonokeling, dan sengon laut. Tanaman itu ditanam disela aktivitas warga sebagai petani dan buruh lepas.
 
Dari tanaman hutan itu, warga mengembangkan aktivitas dengan memanfaatkan sampah dedaunan menjadi pupuk organik. Pupuk organik ini berkembang hingga memproduksi pestisida organik.
 
"Kami juga melakukan edukasi ke warga lewat radio komunitas, namanya radio Radekka atau radio kawasan konservasi. Penggunaan radio ini lebih bisa diterima warga karena bisa didengarkan sembari aktivitas bertani atau mengurus ternak," ujar bapak dua anak ini.
 
Langkah untuk menjaga hutan agar tetap hijau ini tidak langsung memberikan dampak secara ekonomi. Namun, efek yang langsung dirasakan, lingkungan desa menjadi asri dan bisa menjadi kawasan konservasi. Suratimin berkata, tanaman berakar panjang ini baru bisa dipanen beberapa tahu setelah ditanam. Warga yang memiliki kebutuhan mendesak baru diizinkan menebang tanamannya.
 
Menurutnya, dampak yang cukup dirasakan saat hutan rakyat telah hijau yakni sumber air tak mengalami kendala. Sumber air ini kemudian bisa menjadi pengairan tanaman di pertanian. "Kami terus memberikan pengetahuan kepada warga, termasuk membuat sekolah anak petani atau SAP," kata dia.
 
Sementara itu, hasil tanaman hutan bisa dipanen minimal lima tahun usai penanaman. Namun, kayu hasil hutan itu akan lebih berkualitas saat berusia di atas lima tahun atau sepuluh tahun.
 
Ia menyebutkan, pengetahuan warga bertambah saat melihat cara memanen tanaman hutan. Kata Suratimin, harga satu pohon tanaman hutan yang langsung dijual ke tengkulak biasanya paling tinggi hanya sekitar Rp500 ribu. Namun, warga kemudian mengembangkan dengan mengolahnya lebih dulu.
 
Salah satu langkah yang dilakukan yakni dengan membuat tempat produksi mebel. Dari hasil produksi itu, pendapatan satu pohon yang layak tebang bisa menghasilkan uang hingga Rp2,5 juta, lebih besar dibanding menjual langsung ke tengkulak. Penjualan bisa berwujud, meja, kursi, atau perabotan lain.
 
"Tapi memang warga yang terlibat membuat mebel baru ada sekitar 15 kelompok dari total 850 kepala keluarga. Ini cukup baik karena bisa membangun kreativitas dan inovasi warga," ujarnya.
 
Suratimin tak ikut dalam produksi mebel. Ia memilih membuat kerajinan dari tanaman hutan rakyat. Sejumlah hasil kerajinan dari bahan dasar kayu yang dihasilkan yakni berupa gelang, piring, mangkuk, radio, gantungan kunci, sendok, hingga kerajinan jam.
 
Harga hasil kerajinan itu bervariasi. Misalnya, hiasan kamera dijual Rp260 ribu per satuan, cangkir atau gelang (Rp50 ribu), piring (Rp55 ribu–Rp80 ribu), kerajinan jam (Rp150 ribu-Rp250 ribu). "Setelah diolah jadi kerajian, satu pohon bisa menghasilkan sekitar Rp3 juta," katanya.
 
Ia manambahkan, masih ada sejumlah kendala yang dialami warega, salah satunya dalam hal pemasraan. Penjualan yang selama ini dilakukan hanya mengandalkan relasi. "Mungkin ini masih proses. Kami juga menjual dengan media sosial. Kami saling membantu dengan warga lain," pungkas Suratimin.
 

(DEN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi