UGM Punya Laboratorium Pemodelan dan Simulasi Sistem
Konferensi pers jelang peresmian Laboratorium Pemodelan dan Simulasi Sistem di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
Yogyakarta: Sebuah Laboratorium Pemodelan dan Simulasi Sistem akan beroperasi di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM). Laboratorium yang terkoneksi dengan sejumlah laboratorium lain ini untuk mendukung persiapan menuju revolusi industri 4.0.

Laboratorium ini dibangun UGM dengan mitra PT Honeywell Indonesia. Corporate Communication PT Honeywell Indonesia, Anton Susanto mengatakan laboratorium 'Laboratorium Honeywell Connected Lab' berdiri di lingkungan Fakultas Teknik UGM. Laboratorium ini akan diresmikan Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi Mohamad Nasir pada Rabu, 28 November 2018.

"Laboratorium ini akan terhubung dengan laboratorium lain yang sudah ada," kata Anton di Fakultas Teknik UGM pada Selasa, 27 November 2018.


Selain di UGM, laboratorium serupa telah ada di sejumlah perguruan tinggi. Misalnya, laboratorium otomatisasi di Universitas Indonesia (diresmikan Maret 2018) dan laboratorium penyulingan kimia di Institut Teknologi Bandung (diresmikan Desember 2016).

Anton berujar, ketiga laboratorium itu akan terkoneksi dengan satu sama lain. Salah satu yakni dalam berbagi informasi data dan perangkat.

Tak hanya terkoneksi, laboratorium di tiga perguruan tinggi negeri itu bisa berkolaborasi. "(Civitas akademik) di tiga universitas ini bisa saling menggunakan fasilitas untuk pembelajaran," ujarnya.

Laboratorium tersebut berfokus pada pemodelan dan simulasi sistem. Anton mengatakan, inisiatif pembentukan laboratorium itu berasal dari kebutuhan perangkat lunak untuk teknologi yang mampu mengintegrasikan obyek fisik dengan jaringan nirkabel di era revolusi industri 4.0.

"Harapan kami, adanya laboratorium ini bisa memunculkan teknologi baru dengan kolaborasi yang bisa siap menghadapi era industri 4.0," ujarnya.

Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Penelitian, dan Pengabdian Pada Masyarakat Fakultas Teknik UGM, Sugeng Sapto Sarjono mengungkapkan, laboratorium tersebut sangat penting bagi dunia akademis. Salah satu manfaatnya yakni untuk memperkuat teknologi di dunia industri.

Menurut dia, harapan dari pengamatan teknologi itu hanya bisa dicapai dengan kolaborasi yang baik. Ia berharap tak ada istilah pesaing atau kompetitor untuk tiga perguruan tinggi pemilik tiga laboratorium itu.

"Jadi semua ego harus dihilangkan. Tanpa sikap itu, kolaborasi, menganggap yang lain sebagai mitra, dan menyisihkan ego, mustahil harapan akan bisa diwujudkan," kata dia.
 



(SUR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id