Karut-Marut Penerimaan Siswa SMP di Yogyakarta

Ahmad Mustaqim 06 Juli 2018 13:13 WIB
pendidikan
Karut-Marut Penerimaan Siswa SMP di Yogyakarta
Seorang orang tua calon siswa saat menunggu panitia PPDB di Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
Yogyakarta: Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Kota Yogyakarta diterpa sejumlah masalah. Dari yang sistem zonasi tidak valid hingga siswa bernilai tinggi tak bisa masuk di SMP Negeri.

Wajah Yudhanto Tri tampak gelisah. Karyawan di salah satu bank itu cemas memikirkan putrinya, Dafina Naila Zemanova, 11, yang tak bisa masuk SMP Negeri. Ia sudah mencoba mendaftarkan putrinya masuk ke SMP Negeri 2 dan SMP 16 Yogyakarta. Namun tak ada yang masuk.

Jarak rumah Yudhanto dengan SMP negeri sekitar 900 meter. Sementara, zonasi siswa bisa diterima masuk SMP Negeri sejauh 600 meter.


"Jarak paling jauh (dengan SMP Negeri) itu 1,2 kilometer. Tapi tempat saya itu masuk kawasan blank spot (jarak terjauh dengan semua sekolah)," ujarnya ditemui di Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Jumat, 6 Juli 2018.

Yudhanto masih pusing memikirkan kondisi itu. Padahal, keluarganya penduduk asli Kota Yogyakarta.

Cara lain yang coba ia tempuh yakni dengan mengambil jalur prestasi. Jalur prestasi yang ia asumsikan yakni prestasi dari aspek tingginya nilai siswa di sekolah.

Dari SD Negeri 1 Kintelan, Safina mendapat nilai tinggi dengan rataan 24,26. Namun ternyata, jalur prestasi yang digunakan yakni bukti prestasi di luar kegiatan belajar di bangku kelas.

"Jadi anak saya nilainya cukup tinggi tak masuk SMP Negeri. Malah yang keterima di SMP Negeri 2 dengan sistem zonasi itu nilainya tertinggi rata-rata 20,00. Kan jadi aneh kayak gini," keluhnya.

Yudhanto masih berusaha agar putrinya masuk SMP Negeri. Meskipun, saat meminta penjelasan ke panitia PPDB Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, kondisi itu sudah menjadi kebijakan sistem yang diterapkan.

"Anak SD ini kan mentalnya masih labil. Masa orang dalam kota tidak diterima di SMP Negeri. Padahal nilainya tinggi, kan. Angkatan tahun ini seperti jadi tumbal penerapan sistem zonasi," katanya.

Sistem jarak bermasalah

Selain masalah itu, ada pula ketidakadilan sistem jarak dalam pendaftaran lewat daring (online).

Ketua Komisi D DPRD Kota Yogyakarta, Antonius Fokki Ardiyanto menemukan siswa yang jaraknya lebih jauh dari SMP Negeri bisa diterima. Siswa yang berjarak lebih dekat justru tidak diterima.

"Tadi saya sempat cek ada sistem yang terbalik. Jarak RW 19, RW 18, dan RW 17 dengan SMP 10 (Yogyakarta) beda. RW 19 ini lebih jauh, tapi pendaftar diterima. Pendaftar dari RW 18 dan 17 malah tidak masuk," katanya.

Menurut Fokki, panitia sudah mulai memperbaiki masalah pengaturan jarak itu. Ia berharap hari ini bisa segera selesai.

"Saya lihat tadi sudah bisa dibenarkan. Semoga nanti selesai kesalahan pengaturan jaraknya," ucapnya.

Sudah diperbaiki

Panitia PPDB Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Rohmad Jaya mengatakan jarak wilayah dengan masing-masing SMP tak sama. Menurutnya, letak SMP Negeri di Kota Yogyakarta yang belum merata di setiap kecamatan.

"Yang soal jarak, ada wilayah yang memang tak terbaca. Di area itu semua SMP jauh. Kalau jumlah yang dekat dengan SMP ini berapa orang, kita tidak tahu," ujarnya.

Di Kota Yogyakarta, ada sebanyak 16 SMP Negeri. Kuota siswa di SMP Kota Yogyakarta ada sebanyak 3.442 kursi.

Ia menambahkan, masalah sistem zonasi akan jadi bahan evaluasi ke depan. Sistem ini, kata dia, belum bisa dinilai efektif atau tidak. "Pendidikan perlu proses panjang," ucapnya.

 



(SUR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id