Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta, Biwara Yuswantana, menjelaskan letusan freatik terjadi di permukaan. Letusan muncul dari material lama.
"Artinya letusan itu tidak berasal dari magma. Kalau dari magma bisa mengeluarkan material pasir, panas, dan sebagainya," ujar Biwara di kantornya.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Baca: Erupsi Freaktif Didominasi Uap Air
Dia menuturkan, saat meletus pagi tadi, Gunung Merapi tak menunjukkan tanda-tanda bakal meletus. Walaupun sempat bergemuruh.
"Rekaman seismik situasi Gunung Merapi normal-normal saja sebelumnya. Dari Balai Kegunungapian juga tidak memberikan informasi. Rekaman kegempaannya normal," jelasnya.
Tapi, akibat letusan freatik yang terjadi pukul 07.43 WIB dengan ketinggian kolom 5.500 meter. Sejumlah wilayah di Yogyakarta hujan abu yakni mengarah ke selatan dan barat. Bergantung arah mata angin.
Sementara itu, radius aman yang semula ditetapkan 5 kilometer telah direvisi menjadi 2 kilometer. "Warga yang sempat mengungsi sebagian besar sudah kembali. Hitungan sementara masih ada 190 (warga mengungsi) di Puwobinangun. Warga Kaliadem dan Umbulharjo sudah kembali," imbuhnya.
Baca: 10 Ribu Warga Sleman Sempat Mengungsi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(LDS)
