Dana Keistimewaan Belum Kurangi Kemiskinan di DIY

Patricia Vicka 02 November 2018 18:13 WIB
yogyakarta
Dana Keistimewaan Belum Kurangi Kemiskinan di DIY
Ketua DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Yoeke (kiri) dan Wakil Ketua DPRD DIY Arief Noor (kanan) di Yogyakarta, Jumat, 2 November 2018. Medcom.id/Patricia Vicka
Yogyakarta: Dana Keistimewaan (Danais) dinilai belum mampu mengurangi tingkat kemiskinan di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara signifikan. Belum terlihat dampak langsung penggunaan Danais pada peningkatan kesejahteraan rakyat DIY.

Ketua DPRD DIY Yoeke Indra Agung Laksono mengatakan angka kemiskinan di DIY masih cukup tinggi.

"Padahal harapan awal kita dulu danais bisa menyejahterahkan rakyat DIY," ujar Yoeke usai Rapat Paripurna Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanjar Daerah (RAPBD) Tahun Anggaran 2019 di DPRD DIY, Jumat, 2 November 2018.


BPS mencatat angka kemiskinan di DIY masih sebesar 13 persen. Lebih tinggi dari rata-rata angka kemiskinan nasional yang sebesar 10 persen.

Penurunan angka kemiskinan di DIY belum bisa mencapai satu persen per tahunnya. Data per September 2018, angka kemiskinan di DIY tahun ini hanya turun sekitar 0,6 persen.

DPRD DIY menargetkan Pemerintah Provinsi DIY mampu mengurangi angka kemiskinan sebesar delapan persen selama lima tahun.

"Harapan kami tahun 2022, angka kemiskinan disini tinggal tujuh persen. Artinya setiap tahun turun sebesar satu koma sekian (persen)," tegas Yoeke.

Ia yakin target tersebut bisa tercapai jika pemerintah mampu mengatur alokasi Danais untuk mengembangkan kesenian dan kebudayaan di Masyarakat. Misalnya, dengan merangsang pelaku usaha untuk berkarya lewat seni atau kebudayaan.

Eksekutif juga harus kreatif untuk mencari sumber pemasukan daerah selain pajak kendaraan dan bea balik nama.

Wakil Ketua DPRD DIY Arief Noor Hartanto mengatakan Pemprov DIY berencana mengubah definisi dan perumusan kemiskinan. Sebab, metode pengukuran kemiskinan yang dipakai BPS tidak cocok dengan kondisi masyarakat di Yogyakarta.

Versi BPS, kemiskinan diukur dari rendahnya daya beli serta frekuensi dan harga makanan yang dibeli masyarakat. Masyarakat Yogyakarta sendiri banyak yang memiliki pendapatan besar namun memilih makanan sederhana.

"Di Gunungkidul yang sering masuk kategori miskin, banyak orang makan cuma dua kali dan jarang makan daging. Tapi tanah dan ternaknya banyak. Saya setuju untuk diubah," pungkas politikus PAN ini.

DPRD DIY yakin angka kemiskinan bisa tinggal 7 persen di tahun 2022 jika parameter dan definisi yang dipakai tepat.

Danais mulai dicairkan pemerintah pusat sejak 2013. Jumlahnya selalu meningkat setiap tahun. Danais 2018 mencapai Rp1 triliun dengan total Danai 2013-2018 sebesar Rp3,6 triliun.


 



(SUR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id