UGM Didesak Keluarkan Mahasiswa Terduga Pelaku Pemerkosaan

Ahmad Mustaqim 10 November 2018 18:19 WIB
pemerkosaan
UGM Didesak Keluarkan Mahasiswa Terduga Pelaku Pemerkosaan
Perwakilan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Nadine Kusuma (kiri) dan Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan FISIP UGM, Pipin Jamson (kanan) di Kantor Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan DIY, Sabtu, 10 November 2018. Medcom.id-Ahmad Mu
Yogyakarta: Rektorat Universitas Gadjah Mada (UGM) didesak mengeluarkan atau drop out (DO) mahasiswa pelaku pemerkosaan. Desakan ini muncul dari para mahasiswa yang sudah melakukan komunikasi dengan korban.

"Tuntutan DO sudah kami konfirmasi ke penyintas (korban). Penyintas secara tegas meminta pihak kampus menghukum DO kepada pelaku," kata Nadine Kusuma, seorang mahasiswa UGM saat di Kantor Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan DIY, Sabtu, 10 November 2018. 

Nadine mengatakan, tuntutan itu juga telah disampaikan dalam aksi yang dilakukan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UGM pada Kamis, 8 November 2018. Ia mengatakan, dalam aksi itu banyak mendapat dukungan dari mahasiswa, namun juga para dosen hingga karyawan. "Tak hanya dikeluarkan, tapi juga pelaku harus diberikan ccatatan buruk," jelas Nadine. 


Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan FISIP UGM, Pipin Jamson, ada sebanyak 1600 tanda tangan yang dikumpulkan. Selain civitas akademikan UGM, dukungan juga mengalir dari komunitas yang memiliki komitmen dalam perlindungan hak asasi manusia, termasuk bebas dari kekerasan seksual. 

"Secara online, kami juga membuka dukungan dan sudah mendapat sekitar 3165 dukungan. Tuntutan kami ke rektorat, memberikan pengakuan bahwa tindak pelecehan seksual merupakan pelanggaran berat. Tanpa adanya pernyataan tertulis selalu ada celah pelaku bisa lepas dari saksi UGM," jelas Nadine.

Nadine menambahkan, sikap menyalahkan korban atau victim blaming sangat merugikan dan berdampak negatif pada psikologis penyintas. Pihaknya mendesak UGM memenuhi hak-hak penyintas pelecehan seksual agar mendapat transparansi penangan kasus, hingga bantuan hukum dan kerugian materiil. 

Kepala Humas dan Protokol UGM, Iva Ariani mengatakan lembaganya konsen menangani kasus tersebut agar bisa ‘menyelamatkan’ kedua mahasiswanya. Iva mengklaim UGM kasus tersebut akan dibawa ke ranah pidana dengan catatan harus dikomunikasikan dulu dengan penyintas. 

“Kami lebih konsen ke bagaimana kondisi mental dan keadaan psikologis penyintas. Dari awal dalam diskusi dengan tim investigasi penyintas tidak ingin dibawa ke ranah hukum maka tidak dilanjutkan. Saat kasus ini kembali merebak, kami juga akan kembali berkomunikasi dengan penyintas bersama pendamping soal kasus ini dibawa ke rananh hukum,” ucap Iva.



(DEN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id