Aksi Aliansi Masyarakat Sipil dan Pers Mahasiswa di Yogyakarta mendesak pemcabutan pemberian remisi terhadap pembunuh wartawan Radar Bali, I Nyoman Susrama. Medcom.id-Ahmad Mustaqim
Aksi Aliansi Masyarakat Sipil dan Pers Mahasiswa di Yogyakarta mendesak pemcabutan pemberian remisi terhadap pembunuh wartawan Radar Bali, I Nyoman Susrama. Medcom.id-Ahmad Mustaqim (Ahmad Mustaqim)

Presiden Didesak Cabut Remisi Pembunuh Wartawan

pembunuhan
Ahmad Mustaqim • 24 Januari 2019 13:21
Yogyakarta: Aliansi Masyarakat Sipil dan Pers Mahasiswa di Yogyakarta mendesak Presiden Joko Widodo mencabut pemberian remisi ke I Nyoman Susrama. Susrama merupakan dalang di balik pembunuhan wartawan Radar Bali bernama AA Gede Bagus Narendra Prabangsa.
 
Aliansi yang terdiri dari berbagai organisasi ini melakukan aksi di kawasan Kilometer Nol Yogyakarta, Kamis, 24 Januari 2019. Aliansi terdiri dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, Indonesia Court Monitoring (ICM), Pada Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI), LBH Pers Yogyakarta, hingga sejumlah gerakan masyarakat dan mahasiswa.  
 
Koordinator Divisi Advokasi AJI Yogyakarta Tommy mengatakan, pemberian remisi ini menjadi preseden buruk di negara demokrasi dan dunia kebebasan pers. Apalagi, sejumlah kasus lain kekerasan wartawan tak kunjung selesai ditangani.
 
"Kebijakan pengurangan hukuman terhadap pelaku pembunuhan ini melukai rasa keadilan. Tidak hanya pada keluarga korban, tapi juga jurnalis di Indonesia," kata Tommy di sela aksi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Tommy, Susrama tak pantas mendapatkan remisi atas kasus pembunuhan wartawan. Fakta persidangan jelas menunjukkan pembunuhan berencana.
 
"Kami mendesak Presiden Jokowi agar mencabut pemberian remisi Susrama dalam waktu 7X24 jam. Kebijakan ini tidak arif dan memberikan peran yang kurang bersahabat bagi pers di Indonesia. Jika dalam waktu itu tak dicabut, AJI akan menggugat di Pengadilan Tata Usaha Negara," ujarnya.
 
Direktur LBH Pers Yogyakarta, Pitu Agustin menambahkan, orang yang terjerat kasus hukum, terlebih pembunuhan terencana, harus ada ditendak tegas. Ia menilai kebijakan pemberian remisi itu kabar buruk untuk kebebasan pers.
 
Ia menyebut ada delapan kasus hukum terhadap wartawan yang tak tahu ujungnya. Misalnya, Fuad Muhammad Syafrudin alias Udin, wartawan Harian Bernas (1996); Herliyanto, Radar Surabaya (2006); Ardiansyah Matrais, wartawan Tabloid Jubi dan Merauke TV (2010); dan Alfrets Mirulewan, wartawan Tabloid Mingguan Pelangi di Pulau Kisar, Maluku Barat Daya (2010).
 
"Kenapa sekonyong-konyong (Susrama) diberikan remisi? Kasus hukum ya kasus hukum yang harus ada penindakan tegas dan adil. Kejadian seperti ini tak boleh terulang lagi," ujarnya.
 
I Nyoman Susrama dihukum seumur hidup karena terbukti menjadi otak pembunuhan wartawan Radar Bali, AA Gede Bagus Narendra Prabangsa pada 2009. Pembunuhan ini diduga berkaitan dengan proyek pembangunan salah satu sekolah di sana.
 
 

(SUR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif