Paparan Debu Bandara Kulon Progo Ancam Kesehatan Anak
Warga datangi kantor help desk PT Angkasa Pura I di Kulon Progo terkait dampak pembangunan NYIA, Senin, 9 Juli 2018, Medcom.id - Mustaqim
Kulon Progo: Debu bertebaran saat pekerja melakukan pembangunan proyek Bandara New Yogyakarta International Airort (NYIA) di Kulon Progo, DI Yogyakarta. Warga pun mendatangi kantor help desk PT Angkasa Pura I di Kulon Progo, Senin, 9 Juli 2018.

Warga berdatangan dari Dusun Nglawang, Desa Jangkaran, Kecamatan Tenon, Kabupaten Kulon Progo. Mereka tinggal tak jauh dari proyek pembangunan NYIA. Anak-anak banyak di desa tersebut dan terpapar debu.

Widiarso, warga yang rumahnya paling dekat dengan proyek pengerjaan bandara NYIA. Widi bersama keluarganya harus 'berperang' dengan debu dari proyek pengerjaan bandara setiap hari. 


"Debu beterbangan itu mulai siang sampai sore. Kalau angin besar itu debunya sangat banyak sekali," ujar Widi. 

Lelaki berusia 43 tahun ini mengaku pernah dijanjikan kontraktor pengerjaan bandara NYIA untuk menghentikan sementara kegiatan pembangunan bila debu beterbangan. Namun, janji tinggal janji.

"Warga di ring satu ini banyak anak kecil. Kami juga sudah merelakan (kehilangan) lahan dan pekerjaan, tapi tidak dipikirkan kesehatan warga," kata dia. 

Menurut dia, warga sempat menuntut ganti rugi Rp2 juta tiap bulan per kepala keluarga (KK). Hal itu atas pertimbangan ekonomi hingga kesehatan. 

"Waktu kerja kami kan otomatis berkurang karena harus membersihkan rumah. Tapi usulan diterima, cuma ditampung-tampung tok," ungkapnya. 

Dwi Riauwati, 29, yang juga warga Dusun Nglawang mengungkapkan kebiasaan warga bekerja di sawah dalam sehari terpotong untuk membersihkan debu. Pagi hingga siang hari bekerja, mereka membersihkan rumah saat siang sampai sore hari. 

"Sprei sudah diganti berkali-kali tetap saja banyak debu, debunya gatal kalau kena kulit. Kerambah pakaian atau makanan di rumah itu pasti kena debu," ujarnya. 

Dari aspek kesehatan, lanjut Dwi, juga berdampak pada warga di luar lahan pembangunan bandara. Ia mengatakan ada warga yang mengalami asma saat terkena debu dan harus dibawa ke RSUD Wates Kulon Progo. Selain itu, abu juga menimbulkan radang hingga tenggorokan kering. 

Musriniati, tetangga Dwi, menyatakan tuntutan kompetensi bukan sekadar akibat buruk pada kesehatan. Sebab, kata dia, kebisingan pengerjaan proyek mengganggu warga hampir 24 jam. "Janjinya (kontraktor) dulu manis sekali," kata dia. 

Kepala Dusun Nglawang, Supandi, mengatakan PT PP sudah memberikan nominal gani rugi Rp150 ribu per KK. Namun, nilai ini tak sebanding dengan dampak yang warga terima. 

"Semua warga di Desa Jangkaran merasakan dampaknya. Yang terdekat ada sekitar 200 KK terdampak," katanya. 

Pelaksana lapangan PT PP, MS Syahroni mengatakan akan berusaha mendiskusikan solusi bagi warga. "Kita akan berusaha menampung aspirasi-aspirasi warga," ucapnya. 




(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id