Korban Bom Surabaya asal Solo Dimakamkan
Peti jenazah Sri diusung masuk pemakaman. Medcom.id/Pythag Kurniati
Solo: Korban bom Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Sri Pudji Astuti, 67 dimakamkan di TPU Bonoloyo, Solo pada Selasa sore, 15 Mei 2018. Tak hanya keluarga, sejumlah umat Gereja Pentakosta turut mengantarkan Sri ke peristirahatan terakhirnya.

Tangis pecah saat peti jenazah Sri dibawa masuk ke area pekuburan. Usai doa-doa, jenazah Sri dikebumikan di dekat makam kedua orang tuanya.

Sri menjadi korban ledakan bom Gereja Pantekosta Pusat Surabaya pada Minggu, 13 Mei 2018 lalu. Dia sempat dilarikan ke Rumah Sakit AL Ramelan, namun nyawa Sri tidak tertolong. Ia mengalami luka bakar 95 persen di sekujur tubuh.


Salah satu rekan Sri, Purwanti, tak bisa menyembunyikan raut kesedihan di wajahnya. Kepada wartawan ia menuturkan sangat dekat dengan sosok Sri.

Sebelum kejadian, keduanya sempat berkomunikasi dan akan mengikuti ibadat pagi pukul 08.00 WIB di gereja.

Sri, kata Purwanti, datang 30 menit sebelum ibadat dan duduk-duduk di teras gereja. Tak disangka, perempuan kelahiran Solo, 5 Agustus 1851 tersebut menjadi korban ledakan bom.

Korban di mata orang terdekat

Purwanti menuturkan, Sri adalah sosok yang jujur, tegas dan ceplas-ceplos. Hal itulah yang membuat Sri dekat dengan Purwanti layaknya saudara.

"Jadi tidak pernah nggresulo (mengeluh) di belakang orang, itu yang saya sukai. Kalau tidak suka ya langsung disampaikan," kata Purwanti mengenang sosok sahabatnya.

Sri juga dikenal aktif dalam kegiatan gereja.

Sementara keponakan korban, Tri Nuryani, menjelaskan bahwa Sri merupakan sosok mandiri dan tangguh. "Beliau juga pemurah. Kalau ada rejeki, selalu segera ingin pulang ke Solo, berbagi dengan keponakannya," beber Nuryani.

Adik dari ibunya itu lahir di Kota Solo. Namun sejak usia 20 tahun, Sri merantau ke Surabaya.

"Di sana, meskipun perempuan, bulik pernah menjadi sopir bus malam, taksi, kemudian terakhir berdagang," tuturnya.

Sri yang merupakan anak keempat dari lima bersaudara pun pernah berwasiat kepada keponakannya. Sri meminta dimakamkan di Solo jika meninggal.

"Karena banyak keluarga kami lainnya yang juga dimakamkan di sini," kata Nuryani.
 



(SUR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id