Wisatawan menyaksikan matahari terbit pertama di 2018 di Candi Borobudur, Magelang, 1 Januari 2018, Ant - Onis Efizudin
Wisatawan menyaksikan matahari terbit pertama di 2018 di Candi Borobudur, Magelang, 1 Januari 2018, Ant - Onis Efizudin (Ahmad Mustaqim)

Pemasangan Payung Puncak Stupa di Candi Borobudur sedang Dikaji

sejarah
Ahmad Mustaqim • 03 Februari 2018 14:17
Yogyakarta: Balai Konservasi Borobudur Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko tengah mengkaji usulan pemasangan chattra (payung puncak stupa) di stupa induk Candi Borobudur Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pemasangan chattra tak boleh asal dilakukan karena memerlukan berbagai pertimbangan. 
 
Kepala Balai Konservasi Borobudur Tri Hartono menjelaskan pemasangan chattra memerlukan pertimbangan aspek hukum dan tak bisa dipaksakan. Menurut Hartono, persoalan tersebut juga harus menengok UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang pelestarian benda cagar budaya yang mesti dilakukan dengan hasil studi kelayakan. 
 
"Hasil studi kelayakan ini harus dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, teknis, dan administratif," katanya di sela focus group discussion (FGD) tentang rencana pemasangan kembali struktur chattra di stupa induk Candi Borobudur di Hotel Alana Jalan Palagan Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Jumat malam, 2 Februari 2018. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dia, memang ada desakan umat Bhuddha di Indonesia maupun luar negeri soal pemasangan chattra itu. Namun, kata dia, pemasangan tak bisa dipaksakan andai hasil kajian tidak mendukung. Bahkan, lanjutnya, perubahan bisa muncul ancaman pidana jika mengacu aturan itu. 
 
"Ada yang meyakini pemasangan chattra membuat doa yang disampaikan saat beribadah ini mustajab atau terkabul. Tapi, jika hendak memasangnya (chattra) harus hati-hati," jelasnya.
 
Hartono berujar, sejumlah pihak mengklaim chattra merupakan bagian struktur inti stupa Candi Borobudur. Chattra, katanya, pernah dicoba pemasangannya ketika pemugaran dilakukan di era pemerintah Hindia Belanda pada medio 1907-1911. 
 
Pemasangan Payung Puncak Stupa di Candi Borobudur sedang Dikaji
(FGD pemasangan kembali Chattra di stupa induk Candi Borobudur, Sabtu 3 Februari 2018, Medcom.id - Ahmad Mustaqim)
 
Akan tetapi, Chattra yang sudah sempat terpasang saat itu kembali diturunkan. Sebab, struktur dan bentuk asli chattra saat itu juga masih jadi perdebatan. 
 
"Tapi rekonstruksi hasil pemasangan ketika itu, saat ini masih tersimpan di museum Borobudur. Chattra hasil rekonstruksi saat itu berbentuk payung yang terdiri atas 15 lapis batu," ungkapnya. 
 
Ia menambahkan, kajian akan dilakukan hingga Maret 2018. Di Yogyakarta, forum membahas hal tersebut dilakukan 2-3 Februari 2018. 
 
Arkeolog Universitas Indonesia (UI) Mundarjito mengatakan masih ragu dengan keberadaan chattra itu. Menurut dia, belum ada data otentik yang menguatkan bahwa chattra menjadi bagian inti stupa induk Candi Borobudur. 
 
Selain itu, lanjutnya, pemasangan chattra bukan menjadi hal mendesak. "Jika memang tidak tahu persis, mending jangan," ungkapnya. 
 
Lelaki yang pernah terlibat dalam pemugaran Candi Borobudur ini menambahkan, kehati-kahatian menjadi aspek penting dalam melakukan kajian pemasangan chattra. Jadi atau tidaknya pemasangan chattra berdasarkan kajian memang harus dipertanggungjawabkan. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(RRN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif