Sepuluh Kecamatan Gunungkidul dan Bantul Kekeringan
Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal
Yogyakarta: Lima kecamatan di Kabupaten Gunungkidul dan lima kecamatan di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, masuk kategori zona merah kekeringan. Sejumlah desa di sepuluh kecamatan itu berkondisi langka air bersih.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edy Basuki menjelaskan, lima kecamatan itu yakni Girisubo, Rongkop, Samani, Ngawen, dan Gedangsari. Ia menjabarkan, di kecamatan Girisubo tersebut ada lima desa yang terjadi kelangkaan air, yakni Jepitu, Karangawen, Nglindur, Tileng, dan Songbanyu.

"Kecamatan Gedangsari ada desa Hargomulyo, Mertelu, dan Watugajah. Lalu, ada Desa Melikan (Kecamatan Rongkop); Dadapayu (Kecamatan Semanu); Jurangjero, Sambirejo, dan Besi (Kecamatan Ngawen)," kata Edy saat dihubungi di Yogyakarta, Selasa, 23 Oktober 2018.


BPBD memberikan pasokan bantuan air bersih ke zona merah kekeringan total 3.360 tangki air. Setiap tangki berisi lima hingga enam ribu liter air.

Ia tak menampik ada sejumlah kendala dalam pendistribusian air bersih, termasuk terjadi mesin rusak. "Atas kondisi di lapangan, status tanggap darurat belum ditetapkan. Itu baru sebatas usulan," ujarnya.

Sementara, di Bantul ada sebanyak lima kecamatan yang juga berstatus rawan kekeringan. Dalam sebuah pendataan yang di lakukan Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, kecamatan Imogiri, Kasihan, dan Kretek dalam kondisi rawan.

Dalam data yang dirilis itu, Kecamatan Imogiri sudah selama 180 hari tidak mengalami hujan, Kasihan (177 hari), Kretek (151 hari). Namun, BPBD Bantul mencatat ada lima kecamatan yang sudah lama tidak hujan. Lima kecamatan itu yakni Dlingo, Imogiri, Kasihan, Piyungan, dan Pundong.

"Sudah sejak Juli kami pasok bantuan air bersih. Kami juga mengirim bantuan air berdasarkan permintaan di tingkat desa," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bantul, Edy Susanto.



(SUR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id