"Beliau menjadi rekan dan kolega saya. Saya banyak belajar dari beliau, terutama tentang penelitian, menulis artikel, dan kepemimpinan. Dengan suasana yang dibangun, beliau sangat memungkinkan teman-teman di bawah beliau bisa maju," kata mantan Rektor Undip Sudarto di Tembalang, Senin, 15 Januari 2018.
Sudarto mengaku, mendiang Darmanto sudah menjadi dosen saat dirinya masih menjadi mahasiswa di Undip. Karena sama-sama menyukai persoalan sosial, teater, dan seni, Sudarto menjadi punya hubungan dekat dengan Darmanto.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Saya jadi mahasiswa pada 1974, beliau jadi dosen. Saya jadi asisten beliau di mata kuliah Ilmu Sosial Dasar Budaya Dasar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik," kenang Sudarto.
Darmanto Jatman meninggal di usia 75 tahun pada Sabtu, 13 Januari 2018. Kepergian Darmanto idiiringi isak tangis dari keluarga besar.
Ratusan kolega turut mengantarkan Darmanto ke tempat peristirahatan terakhirnya. Salah seorang anggota keluarga Darmanto nampak membawa lukisan mendiang semasa masih muda.
Aryaning Arya Kresna, putra laki-laki tertua Darmanto, menuturkan lukisan tersebut hasil karya seniman Teguh Endro. Ia adalah ilustrator koran Manunggal yang didirikan oleh mendiang ayahnya bersama Bambang Sadono dan Sudarto pada 1980.
"Lukisan itu dibuat Mas Teguh Endro pada 1980 untuk Bapak," terang Arya.
Darmanto, lanjut Arya, mendidik anak-anaknya dengan penuh kebebasan. Ia tidak pernah memaksakan kehendak pada anak-anaknya.
"Bapak tidak pernah bilang kamu harus begini, harus jadi ini, harus begitu. Membebaskan kami memilih apapun menjadi siapa pun. Saya beruntung karena dibesarkan demikian," pungkas Arya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(NIN)
