57 Kecamatan di DIY Rawan Pergerakan Tanah
Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal
Yogyakarta: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merilis 57 kecamatan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) rawan pergerakan tanah atau longsor pada Desember 2018. Pergeseran tanah dan longsor ini memperhitungkan musim penghujan yang datang di daerah tersebut.

Kepala Pusat Pengendalian Operasional (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Danang Samsurizal mengatakan data dari PVMBG diperkirakan dilihat dari potensi hujan yang akan terjadi sepanjang Desember 2018. Sejauh ini, kata dia, peristiwa gerakan tanah diakibatkan adanya hujan ekstrem.

"Petanya atau data dari PVMBG ini masih makro. Kami masih harus ada yang dilihat dengan detail, atau memerlukan data secara mikronya," kata dia saat dihubungi, Rabu, 5 Desember 2018.


Di Bantul, ada 11 kecamatan terdapat potensi rawan gerakan tanah dengan kategori menengah hingga tinggi. Seperti Bambanglipuro, Dlingo, Imogiri, Jetis, Kasihan, Kretek, Pajangan, Pandak, Pleret, Pundong, Sedayu. Sementara itu, dua kecamatan, yakni Banguntapan dan Piyungan, selain rawan gerakan tanah juga disertai rawan banjir.

Di Kabupaten Gunungkidul, ada 16 kecamatan yang terdapat rawan gerakan tanah. Mulai dari Gedangsari, Girisubo, Karangmojo, Ngawen, Nglipar, Paliyan, Panggang, Patuk, Playen, Ponjong, Purwosari, Rongkop, Saptosari, Semin, Tepus, dan Wonosari.

Di Kabupaten Kulon Progo, kerawanan gerakan tanah kategori sedang hingga tinggi ada di kecamatan Girimulyo, Kalibawang, Kokap, Lendah, Nanggulan, Panjatan, Pengasih, Samigaluh, Sentolo, Temon, dan Wates.

Di Sleman, titik rawan gerakan tanah ada di Kecamatan Gamping, Godeyan, dan Seyegan. Di kecamatan lain, seperti Berbah, Cangkringan, Depok, Kalasan, Minggir, Mlati, Ngaglik, Ngemplak, Pakem, Prambanan, Tempel, dan Turi, tak hanya rawan gerakan tanah, namun juga disertai banjir.

Terakhir, di Kota Yogyakarta, kerawanan gerakan tanah ada di kecamatan Tegalrejo dan Gondokusuman.

Sejauh ini, tiga titik di Desa Selopamioro, Wonolelo (Kecamatan Imogiri), dan Srimanganti (Kecamatan Piyungan) telah dipasangi sistem peringatan dini berbasis teknologi. Sistem yang terpasang bisa dipantau lewat jaringan komputer ataupun gawai.

Namun, Danang mengakui ada sejumlah titik rawan gerakan tanah yang alatnya belum dipantau keseluruhan. "Kami belum lakukan pemantauan keseluruhan alat pendeteksi dini, apakah berfungsi normal atau perlu perbaikan," tuturnya.

Lembaganya telah merencanakan menganalisis ulang kesiapsiagaan peralatan untuk pendeteksi bencana. Nantinya, alat-alat pendeteksi dini akan difungsikan dengan sistem berbasis data untuk memudahkan pengawasan.

"Saya kira masyarakat saat ini yang masih potensi hujan lebat juga perlu mengecek alat untuk mengantisipasi situasi darurat, seperti genset dan tempat evakuasi bagaimana," ungkapnya.



(SUR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id