Warga melintasi jalan yang diselimuti abu vulkanik Gunung Merapi di Muntilan, Jateng, Kamis 24 Mei 2018, Ant - Andreas Fitri Atmoko
Warga melintasi jalan yang diselimuti abu vulkanik Gunung Merapi di Muntilan, Jateng, Kamis 24 Mei 2018, Ant - Andreas Fitri Atmoko (Patricia Vicka)

Debu, Bahaya Letusan Freatik

gunung merapi
Patricia Vicka • 24 Mei 2018 13:28
Yogyakarta: Letusan freatik merupakan ciri khas erupsi Gunung Merapi yang lokasinya berada di wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Salah satu dampak letusan freatik yaitu semburan debu yang partikelnya membahayakan kesehatan.
 
Kepala Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) Universitas Gadjah Mada (UGM) Djati Mardiatno mengibaratkan letusan freatik bagai pertemuan minyak panas dan air. Yaitu, kontak magma dengan air.
 
Air masuk ke gunung melalui retakan pada kawah. Retakan terbentuk secara alami lantaran aktivitas magma. Lalu asap keluar dari puncak gunung. Asap itu yang membawa pasir dan debu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kemudian muncul percikan yang berujung pada semburan debu. Partikel debu itu yang berbahaya karena mengandung silika atau bahan baku kaca," kata Djati di Yogyakarta, Rabu, 23 Mei 2018.
 
Bila terhirup, partikel itu dapat mengganggu pernapasan. Sementara mata bisa mengalami iritasi bila terpapar debu.
 
Tapi, lanjut Djati, letusan freatik bukan menjadi tanda erupsi yang lebih besar. Asal, magma tak keluar dari puncak.
 
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida, menjelaskan letusan freatik adalah hal yang alami. Bahkan, lanjutnya, letusan freatik merupakan aktivitas rutin Gunung Merapi, yaitu terjadi beberapa tahun setelah erupsi besar.
 
Lihat video:

 

(RRN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi