Ketua Pengurus Cabang NU Brebes, KH Athoillah Syatori, di Brebes, Jawa Tengah, Jumat, 21 September 2018. Medcom.id/ Kuntoro Tayubi.
Ketua Pengurus Cabang NU Brebes, KH Athoillah Syatori, di Brebes, Jawa Tengah, Jumat, 21 September 2018. Medcom.id/ Kuntoro Tayubi. (Kuntoro Tayubi)

Peran Ulama Dinilai Berpengaruh Mencegah Stunting

gizi kurang
Kuntoro Tayubi • 21 September 2018 11:40
Brebes: Ulama di Brebes, Jawa Tengah, mengadvokasi kebijakan publik untuk peningkatan kualitas dan kuantitas penanganan gizi buruk dan perbaikan pelayanan kesehatan masyarakat untuk mengatasi stunting.
 
"Peningkatan kapasitas tokoh agama mengenai isu stunting yang dilakukan dalam bentuk pemberian media KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi), penguatan kapasitas untuk melakukan advokasi, peningkatan keterampilan dalam melakukan penyuluhan (sosialisasi)," kata Ketua Pengurus Cabang NU Brebes, KH Athoillah Syatori, di Brebes, Jawa Tengah, Jumat, 21 September 2018.
 
Athoillah menjelaskan, tokoh agama merupakan salah satu komponen penting di masyarakat untuk mempromosikan kesehatan dan gizi. Kekuatan jaringan yang luas dan kegiatannya yang aktif dari tokoh agama di akar rumput, dapat menyebarluaskan narasi agama yang membawa pesan-pesan, nilai, dan norma sosial yang dapat memberikan informasi mengenai stunting dan cara pencegahannya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Peran tokoh agama sangat berpengaruh penting dalam memberikan kontribusi bagi perubahan perilaku di masyarakat," jelas Athoilah.
 
Sasaran selanjutnya adalah masjid, pesantren, dan majelis taklim. Setiap hari Jumat masjid digunakan untuk salat Jumat, di mana proses transformasi informasi dan pengetahuan untuk membangun kesadaran masyarakat lebih mudah dengan media khutbah Jumat.
 
Pesantren tempat belajar dan melakukan pengajian keagamaan, di mana pengajian keagamaan fungsinya hampir sama dengan majlis taklim. Pesantren merupakan tempat strategis untuk melakukan interaksi dengan masyarakat melakukan penyadaran masyarakat.
 
Majlis taklim biasanya dilakukan secara rutin seminggu sekali atau dua kali. Di sela-sela mengaji dan berzikir, biasanya ada ceramah dari dai.
 
"Oleh karena itu, untuk memudahkan aktifitas, para tokoh agama diberikan panduan buku praktis mengenai stunting, media poster dan buku khutbah untuk materi ceramah di masjid, pesantren, dan majlis taklim," pungkas Athoilah.
 

(DEN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif