Sutopo Purwo Nugrhoho memberikan keterangan pers seputar penanganan bencana alam tsunami Mentawai di Jakarta, Senin (1/11). FOTO ANTARA/Andika Wahyu.
Sutopo Purwo Nugrhoho memberikan keterangan pers seputar penanganan bencana alam tsunami Mentawai di Jakarta, Senin (1/11). FOTO ANTARA/Andika Wahyu. (Ahmad Mustaqim)

Pakar: Masyarakat Kurang Menghargai Ruang Rawan Tsunami

bencana alam
Ahmad Mustaqim • 28 Desember 2018 16:38
Yogyakarta: Posisi Indonesia yang memiliki banyak pantai menjadikan banyak wilayah di pesisir pantai, termasuk di kawasan selatan Pulau Jawa yang rawan tsunami. Namun, situasi daerah rawan yang sudah diketahui masyarakat tidak ditindaklanjuti dengan proporsional. 
 
Geolog Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurna mengatakan, kawasan pesisir pantai seperti di Jawa, Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara, Ambon, serta pantai barat Sumatera sudah disebutkan rawan bencana tsunami dengan basis gempa bumi sebagai pemicu.
 
Selain gempa bumi, tsunami juga bisa terjadi dengan pemicu aktivitas gunung merapi, misalnya Gunung Anak Krakatau dan Gunung Gamalama.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Daerah-daerah rawan itu juga sudah ada warning, deteksi dini, dan data kejadian tsunami sebelumnya," ujar Eko saat dihubungi Medcom.id pada Jumat, 28 Desember 2018.
 
Eko mengatakan, adanya fakta di lapangan itu tidak membuat masyarakat di pesisir pantai bisa bertindak proporsional. Sebab, masih banyak warga yang tetap memilih berada di kawasan rawan tanpa menerapkan prinsip kehati-hatian yang terukur. Akibatnya, saat peristiwa tsunami terjadi hampir selalu memakan banyak korban. 
 
"Penghargaan dan rasa kehati-hatian di kawasan rawan tsunami belum ada. Penghargaaan terhadap ruang rawan ini masih menjadi masalah," ungkap Eko.
 
Ketua Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta ini meminta masyarakat bisa merefleksi kembali di mana lokasi tempat tinggalnya. Jika di lokasi rawan tsunami, kata dia, harus disikapi dengan bisa merespon mempertimbangkan peluang menyelamatkan diri saat bencana terjadi.
 
Peristiwa tsunami saat ini tak bisa dipastikan kapan terjadi. Ia menyebutkan, jarak waktu gempa dengan tsunami di Palu tak sampai 20 menit. Namun, masih ada pula daerah rawan tsunami dengan pemicu gempa bumi yang waktunya sekitar 20 menit.
 
"Ada subduksi, ada pusat gempa, ada waktu lambat gelombang, surut, dan hempasan tsunami. Sekarang tak demikian. Tinggi gelombang (tsunami) misalnya 1 meter, ketika masuk ke darat bisa sejauh tiga meter. Yang besar adalah daya horisontalnya yang dominan," kata dia. 
 
Ia menegaskan masyarakat perlu melihat lebih rinci apakah lokasi pantai di dekat tempat tinggal rawan tsunami. Baik itu tsunami akibat erupsi gunung api langsung, atau longsoran gunung api. "Tsunaminya kan gak mikir ada aktivitas manusia," ujarnya.
 
Potensi Tsunami di Pesisir Yogyakarta
 
Kawasan pesisir di tiga kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta rawan potensi bencana tsunami. Telah ada kajian dari sejumlah lembaga yang menyebutkan hal tersebut. 
 
Eko mengatakan, kawasan pantai di Kabupaten Kulon Progo dan Bantul paling rawan potensi tsunami. Di Bantul, terdapat titik patahan yang bisa menjadi pemicu. Di Kabupaten Kulon Progo disebut ada patahan namun berada di daratan. Di Gunungkidul dengan Medan perbukitan, lokasi rawan tsunami berada di kawasan pantai Wediombo dan Ngrenehan. 
 
"Pemicu tsunaminya yang ada di laut. Yang di daerah itu, yang memicu tsunami di subduksi selatan Jawa," ujar Eko. 
 
Ia mengatakan ada hukum 20 menit waktu emas untuk titik rawan tsunami di Yogyakarta. Artinya, ada jarak waktu sekitar 20 menit dengan gempa yang bisa memicu terjadinya tsunami.
 
Menurut Eko, perlu ada langkah untuk memperlihatkan kembali peta bahaya potensi tsunami di pesisir selatan pulau Jawa, khususnya Yogyakarta. Dari peta itu, kata dia, masyarakat diharapkan bisa mengambil tindakan antisipatif sebelum kejadian. 
 
Eko mengungkapkan, masalah penanggulangan bencana merupakan urusan semua lapisan, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat, serta perguruan tinggi. Ia berkata, semuanya bisa memiliki peran masing-masing, mulai dari sistem pengurangan risiko bencana dari early warning system (EWS), menginformasikan ke berbagai lapisan, pemantauan rutin EWS, hingga langkah evakuasi saat peringatan akan terjadi tsunami. 
 
"Kalau warga tak lakukan apa-apa dan mati. Ya gak ada gunanya. Jangan sampai kabar arah angin, tinggi angin, hanya sebatas kabar tak ada tindakan. Harus ada langkah penanggualangan rencana bencana tsunami di selatan Jawa," pungkas Eko.
 

(DEN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi