Lasiyo Syaifudin, 64, menunjukkan hasil budidaya pohon pisang di rumahnya Dusun Ponggok, Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu, 16 Januari 2019. Medcom.id/ Ahmad Mustaqim.
Lasiyo Syaifudin, 64, menunjukkan hasil budidaya pohon pisang di rumahnya Dusun Ponggok, Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu, 16 Januari 2019. Medcom.id/ Ahmad Mustaqim. (Ahmad Mustaqim)

Bibit Pisang Antar Mbah Lasiyo Jadi Pembicara di Italia

Sosok Inspiratif
Ahmad Mustaqim • 17 Januari 2019 09:00
Bantul: Lasiyo Syaifudin, lelaki berusia 64 tahun ini bukan sosok asing di dunia pembibitan pohon pisang. Warga Dusun Ponggok, Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini melakukan budidaya bibit pohon pisang sejak delapan tahun lalu.
 
Proses budidaya, pupuk, obat-obatan dilakukan dengan bahan ramah lingkungan atau organik. "Semua bahan sampah saya ambil dari sekitar kampung. Saya dapat julukan pemulung sampah," kata Lasiyo di kediamannya, Rabu pagi, 16 Januari 2019. 
 
Ada lebih dari 20 varietas bibit pohon pisang yang Lasiyo budidaya. Bahkan, ia tak kurang mendapat lebih dari 50 penghargaan, salah satunya sebagai pelopor pangan lokal 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lelaki kelahiran 1955 ini bahkan pernah menjadi pembicara di Turin, Italia pada 2016 silam. Kisah ini bermula saat Lasiyo kedatanganan dua orang dari luar negeri bersama penerjemahnya datang ke Dusun Ponggok pada Mei 2015.
 
"Katanya saya mau diundang jadi pembicara di Italia. Sekitar Februari 2016, benar, saya dapat kabar diundang ke Italia," ujar lelaki dengan dua cucu ini.
 
Lasiyo kemudian mengurus paspor pada Agustus 2016. Pasangan Sujinah, 60, ini mengaku sempat tak yakin berangkat ke Eropa. Namun, hal tak terduga itu menjadi kenyataan.
 
Lasiyo berangkat ke Italia jelang akhir tahun 2016. Di negeri pizza itu, sang kakek diminta berbicara proses budidaya bibit pohon yang dilakukan secara organik. Lasiyo berbicara di hadapan sekitar 62 orang perwakilan dari berbagai negara. 
 
"Sempat grogi itu, kan saya gak bisa bahasa Inggris. Tapi bisa diatasi dengan bantuan penerjemah," jelas Lasiyo.
 
Selain itu, Lasiyo juga tenang dalam berbicara karena bisa terbantu dengan fasilitas sebuah video dari panitia tentang budidaya bibit pohon pisang yang dia lakukan. Video tersebut berdurasi sekitar 10 menit.
 
"Di sana saya seminggu sorjan dan blangkon. Ternyata itu memang acara yang setiap tahun digelar untuk memberikan kesempatan orang yang memiliki inovasi, mengambangkan potensi lokal dan ramah lingkungan," beber Lasiyo.
 
Selain Italia, Lasiyo juga pernah ke negeri Jiran, Malaysia pada 2017. Namun, saat itu Lasiyo bersama sebuah lembaga melakukan survei lahan yang hendak ditanami pisang di Batam dan berlanjut hingga wilayah Malaysia.
 
Ia mengaku senang bisa berbagi pengetahuan dengan siapapun. Hingga kini, ia masih kerap dijadikan tempat pembelajaran petani, lembaga, hingga perusahaan, dalam hal pembibitan pohon pisang hingga perawatannya.
 
"Pada dasarnya, lahan yang cocok untuk menanam pisang itu ketinggian maksimal 1200 meter di atas permukaan laut (MDPL), dan terendah tak kurang dari 10 MDPL," pungkas Lasiyo.
 

(DEN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi