Berkas Perkara Perusak PN Bantul Masih Diteliti Jaksa

Ahmad Mustaqim 11 Agustus 2018 17:47 WIB
perusakan
Berkas Perkara Perusak PN Bantul Masih Diteliti Jaksa
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bantul, AKP Rudy Prabowo. Medcom.id/ Ahmad Mustaqim.
Bantul: Polres Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta telah melimpahkan berkas tersangka perusakan Pangadilan Negeri (PN) Bantul. Berkas dua tersangka yang sudah dilimpahkan yakni atas nama Novi Kurniawan, 22, dan ASHA, 17. 

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bantul, AKP Rudy Prabowo mengatakan, pelimpahan berkas tersangka ke jaksa telah dilakukan beberapa waktu lalu.

"Artinya, berkas tersebut saat ini dalam tahap penelitian jaksa," kata Rudy saat dikonfirmasi, Sabtu, 11 Agustus 2018.


Baca: Tiga Perusak Pengadilan Negeri Bantul Jadi Tersangka

Rudy menjelaskan, tersangka berinisial ASHA sempat diusulkan proses diversi, atau penyelesaian hukum di luar pidana, namun tidak mencapai kesepakatan oleh penegak hukum lain.

Upaya diversi itu didasarkan usia ASHA yang masih 17 tahun dan sesuai UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak. Adapun diverai tersebut juga diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung (MA) Nomor 4 Tahun 2014.

"Jika (berkas) tak perlu ada perbaikan, kami harap kasus segera diproses lanjut. Sekarang menjadi ranahnya pengadilan," ungkap Rudy. 

Sementara itu Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Bantul, Sabar Sutrisno mengatakan, berkas para tersangka masih dalam tahap penelitian. "Paling cepat (hasil pemeriksaan berkas lengkap atau tidak) bisa diketahui pekan depan," jelas Sabar. 

Sabar menambahkan, proses diversi kemungkinan akan kembali dilakukan terhadap tersangka ASHA. Meskipun, proses di kepolisian menyatakan yang bersangkutan harus tetap dipidana demi memberikan efek jera. "Proses diversi pada tahap penuntutan tetap harus ada," beber Sabar.

Ormas Pemuda Pancasila sebelumnya merusak berbagai fasilitas di Pengadilan Negeri Bantul, Kamis, 29 Juni 2018. Mereka tak puas atas putusan sidang yang dijalani Ketua Pemuda Pancasila Bantul, Doni Bimo Saptoto dalam kasus pembubaran pameran seni bertema Wiji Thukul di Kantor Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) Universitas Islam Indonesia pada Mei 2017. 

Sejumlah fasilitas yang rusak mulai dari kursi pengunjung sidang, meja piket satpam, pot tanaman, hingga kaca gedung.



(DEN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id