Ilustrasi longsor, Medcom.id - M Rizal
Ilustrasi longsor, Medcom.id - M Rizal (Rhobi Shani)

Hanya Satu Desa Dipasangkan Alat Pendeteksi Longsor

bencana alam
Rhobi Shani • 03 Desember 2018 12:57
Jepara: Longsor berpotensi terjadi di 57 desa di Jepara, Jawa Tengah. Namun, hanya satu desa dipasangkan alat pendeteksi gerakan pergerakan tanah.
 
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara Arwin Nor Isdiyanto menyampaikan sensor alat pendeteksi pergerakan tanah di Desa Damarwulan. Informasi dari alat tersebut akan disampaikan dengan Dinas Energi Sumberdaya dan Mineral Provinsi Jawa Tengah di Semarang.
 
“Semarang langsung yang mengurusi secara teknis. Kelihatannya sudah terpasang sejak tahun 2014,” ujar Arwin, Senin, 3 Desember 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mengingat desa yang berpotensi terjadi tanah longsor sangat banyak, Arwin melanjutkan, pikhaknya sudah mengusulkan penempatan alat pendeteksi pergerakan tanah ke pemerintah kabupaten. Selain itu, juga kepada Badan Penanggulangan Bencana Nasionak (BNPB).
 
“Tapi sampai sekarang belum ada (bantuan, red),” kata Arwin.
 
Selain potensi tanah longsor, bencana banjir juga berpotensi terjadi di Bumi Kartini. Arwin menyampaikan, hampir semua desa yang berada di wilayah Kecamatan Welahan berpotensi banjir. Sebab, wilayah ini di lalui dua sungai besar, yaitu Sungai Serang Welahan Drainage (SWD) 1 dan SWD II. Selain itu, juga berbatasan dengan Sungai Wulan.
 
“Untuk banjir, Balai Besar Wilayah Sungai sudah memiliki satu pos pantau di sungai SWD,” ungkap Arwin.   
 
Menghadapi musim hujan, BPBD Jepara memetakan risiko bencana banjir, longsor, dan angin. Dari 195 desa dan kelurahan di Jepara, hanya Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan yang aman dari risiko bencana banjir, tanah longsor, dan angin.
 
 
 

(RRN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif